PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Hypnoteaching: Panduan untuk Menjadi Guru yang Keren! (part 3)

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 03 March 2014
di Psikologi Pendidikan - 0 komentar

Ketiga, mengatasi kejenuhan dengan keceriaan!

Seperti yang dijanjikan sebelumnya, artikel ini merupakan pemenuhan janji ane kepada agan-agan yang masih mau sharing terkait menjadi fasilitator di kelas. Kali ini akan fokus membahas tentang mengatasi kejenuhan siswa sepanjang jam pelajaran. Yuk pantengin terus...

 

Agan pernah denger nggak kalau batas konsentrasi manusia itu hanya sampai 15-20 menit? Yaps ini yang bakal jadi sorotan utamanya. Batas waktu tersebut hendaknya menjadi acuan agan untuk bisa mengatasi permasalahan kejenuhan tersebut. Agan hendaknya mengeluarkan kreativitas untuk mengakalinya.

 

Ane jadi inget waktu SMA (ane alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo gan... hehehe), dulu waktu pelajaran Bahasa Indonesia diajar sama seorang Ibu Guru nyentrik, yang jadi salah satu pavorit ane. Nama beliau Ibu Dewi Purwati, kita manggilnya BUDE. Tiap rentang waktu 15-20 menit, tiba-tiba beliau minta buat ane dan temen-temen pindah tempat duduk. Awalnya menurut ane sih aneh banget, tapi ternyata baru tahu alasan sesungguhnya apa.

 

Barulah akhirnya ane terapkan hal itu di kelas. Efeknya luar biasa. Semangat anak-anak seolah ter-refresh kembali. Mereka terlihat antusias dan tidak terlihat jenuh lagi.

 

Nah, kalau agan mau nyoba, tinggal modifikasi saja. Misalkan seperti ini:

 

Katakan secara tiba-tiba setelah 15-20 menit pelajaran berlangsung ‘dalam hitungan kelima, kalian harus sudah pindah tempat duduk. Teman di kanan, kiri, depan, dan belakang haruslah berbeda dari sebelumnya, siap... mulai...

 

Lalu mulailah perhitungan hingga hitungan kelima. Bagi mereka yang belum mendapat tempat duduk setelah hitungan kelima, atau ada teman di kanan, kiri, depan, dan belakang yang masih sama, agan bisa kasi kesempatan dia buat menghibur teman-temannya. Lalu pelajaran bisa dilanjutkan.

 

Nah itu salah satu alternatifnya. Kelas bisa menjadi hidup dan konsentrasi anak-anak ter-refresh kembali. Atau sekali-sekali ajaklah anak didik agan untuk belajar di tempat yang berbeda. Pernah suatu saat pas SMA, ane belajar dibawah pohon, di tepi lapangan sepak bola. Kejadian itu sangat berkesan banget bagi ane.... 

 

Catatan utamanya adalah buat sedinamis mungkin kelas/tempat belajar. Salah satu alternatifnya dengan perpindahan tempat duduk setiap 15-20 menit. Atau sesekali carilah tempat di luar kelas yang dapat dijadikan tempat belajar.

 

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pengemasan penyampaian cara belajar. Sudah ane singgung pada artikel sebelumnya, permainan (game) merupakan alternatif yang bisa dilakukan. Ane punya beberapa alternatif pengemasan pelajaran yang dibuat menjadi permainan (game). Tetapi dalam artikel ini belum akan di-sharing-kan, mungkin pada kesempatan berikutnya.

 


 

Oke... rangkaian artikel tentang sharing pengalaman menjadi fasilitator ini hampir selesai. Tinggal satu tahapan lagi, yaitu closing. Bagian ini juga sangat penting untuk mengakhiri pertemuan dalam belajar. Ibaratnya bagian penutup ini menentukan sukses tidaknya kegiatan yang telah agan lakukan. Berikan sentuhan closing yang menawan kepada anak didik agan, sehingga akhirnya agan bisa menjadi guru yang keren! Tetep semangat buat terus pantengin blog ane. See ya...

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :