PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Hypnoteaching: Panduan untuk Menjadi Guru yang Keren! (part 1)

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 03 March 2014
di Psikologi Pendidikan - 0 komentar

Setelah lama tidak ngisi blog ini, rasanya kangen pengen lagi ngisi. Ok... langsung saja, kali ini ane ingin sharing pengalaman tentang mengajar. Tepatnya jadi fasilitator. Bagi agan-agan yang membaca artikel ini, bila punya pengalaman yang sama juga terkait dengan kegiatan fasilitasi, yuk di-sharing-kan juga di mari.

 

Begini ceritanya (masuk intronya dulu ya gan), beberapa bulan yang lalu ane dan kawan-kawan ane diterjunkan buat KKN-BBM angkatan ke-49. Ternyata dapet jatah di Desa Kedungsupit Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Menurut ane, itu merupakan desa yang paling strategis dan enak. Alasannya adalah dibanding desa-desa lainnya, Desa Kedungsupit ini lebih maju masyarakatnya, akses ke sananya juga sangat mudah, dan juga desa perbatasan dengan kecamatan lain. Bayangkan gan, ada desa yang berbatasan langsung sama dua kecamatan berlainan sekaligus. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Kedopok Kecamatan Wonoasih, Kotamadya Probolinggo. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Desa Kropak Kecamatan Bantaran, masih sekabupaten dengan Desa Kedungsupit. Bener dah, asik banget itu desa.

 

Nah, kalau mahasiswa yang lagi KKN-BBM langganan programnya pasti ada yang namanya ‘KKN mengajar’ betul?. Di sini berlaku juga buat kelompok ane. Kelompok ane mengajar buat tiga sekolah, yaitu SDN K*********t I, II, dan MI MJ. Jam berkunjungnya satu minggu itu dibagi buat tiga sekolah itu.

 

Masing-masing sekolah itu punya karakteristik yang sangat berbeda satu sama lain, terutama para siswanya. Karakteristik itulah yang menurut ane menjadi hal unik banget. Ane dengan temen-temen ditantang untuk bisa menaklukkan perbedaan karakteristik tersebut. Satu sekolah, siswanya dibilang sudah lebih maju, lebih aktif, dan nggak malu-malu waktu ketemu orang baru. Sekolah lainnya siswanya masih malu-malu, pasif, sama masih unyu-unyu. Terakhir, sekolah yang lainnya ternyata pada hiperaktif, atau para guru di sekolah tersebut melabelinya sebagai ‘anak-anak yang nakal’. Seru nggak tuh gan?

 

Berhubung ane dari dulu tertarik dengan dunia pendidikan, terlebih ngambil peminatan Psikologi Pendidikan & Perkembangan di Fakultas ane. Jadinya ane waktu itu merasa ‘inilah waktunya buat belajar dan menerapkan langsung ilmu-ilmu yang sudah ane dapat sebelumnya’. Jadi ane berpegangan pada beberapa hal umum yang ane rasa menjadi dasar untuk menyajikan pelajaran.

 

Sebelum masuk ke pegangan tersebut, ane mau nambahin. Ane kurang sreg kalau harus bilang menjadi pengajar ane lebih enak kalau bilangnya fasilitator. Secara ane belum seberapa berpengalaman... hehehe.

 

Beberapa pegangan umum untuk menjadi fasilitator di sekolahan:

 

Pertama, menjadi fasilitator ‘keren’ yang berbeda!

Wah maksudnya apa nih? Kalau agan pernah mendengar ‘hypnoteaching’ dalam dunia pendidikan, nah itu bisa jadi langkah awal buat agan menjadi fasilitator yang berbeda dari kebanyakan. Jadilah fasilitator yang ‘keren’ bagi siswa-siswi agan!

 

Berbeda di sini lebih mengarah kepada bagaimana agan bisa menyajikan materi di kelas dan diterima oleh orang yang bersangkutan. Tidak hanya materi, tetapi juga segudang harapan terbaik untuk para siswa-siswi agan. Baiklah, sekarang kita akan ‘nyerempet’ sedikit ke hypnoteaching. Definisinya apa? Silakan agan searching untuk mendapatkan definisinya.

 

Pada dasarnya, hypnoteaching ini merupakan perpaduan antara hipnotis dan cara mengajar. Prinsip utama dari hipnotis adalah pengondisian seseorang dalam keadaan rileks, nyaman, dan santai, sehingga sugesti yang diberikan kepada orang tersebut bisa masuk. Kemudian prinsip utama tersebut diadopsi dalam dunia mengajar. Arahkan pikiran agan untuk membayangkan hypnoteaching sebagai sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Hipnotis di sini agak berbeda dengan bentuk hipnotis yang sering dilihat di tv.

 

Hypnoteaching paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan selalu menggunakan kata-kata positif, memberikan pujian, dan menghargai proses.

 

 

Menggunakan kata-kata positif

Menghargai proses

Memberikan pujian

 

Kata ‘jangan’, ‘tidak boleh’ dan sejenisnya adalah kata-kata negatif. --> HINDARI, karena pada dasarnya otak tidak akan memproses kata-kata negatif tersebut. Jika kita mengatakan ‘jangan nakal’ maka otak hanya merespon kata ‘nakal’ saja. Bisa jadi akibatnya anak malah akan berperilaku nakal.

 

Kata-kata ‘harus benar’, ‘tidak boleh salah’ ‘kamu salah’ adalah penekanan implisit, bahwa anak dituntut untuk selalu benar. Kesalahan adalah sebuah aib, sehingga anak akan selalu berorientasi pada hasil, bukan proses. Apapun akan dilakukan, asalkan hasilnya benar/sempurna. --> HINDARI, ajarkan bahwa perlu proses yang baik untuk mendapatkan hasil yang baik. Dalam proses, kegagalan adalah hal biasa. Maka jika gagal, arahkan agar mereka mendapat hasil yang baik dengan cara yang baik. Sehingga anak akan memahami pentingnya sebuah proses.

 

Dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah reinforcement (penguatan). Banyak sekali intervensi psikologi yang melibatkan penguatan untuk mengubah/memodifikasi perilaku seseorang. Pujian merupakan reinforcer (penguat) sederhana namun cukup efektif dalam pengubahan perilaku seseorang. --> LAKUKAN, karena pada dasarnya orang itu suka pujian. Dalam batas wajar, pemberian pujian ini akan berdampak positif pada perilaku seseorang.

 

 

 

Solusi: cari kata alternatif lain yang semakna dengan maksud yang menggunakan kata negatif tersebut. Kata lain yang semakna dengan ‘jangan nakal’ adalah ‘ayo, jadi anak baik’.

Solusi: berikan penghargaan atas usaha mereka (sebagai bagian dari proses). Katakan ‘kamu belum berhasil/kamu belum benar’ dan kemudian berikan motivasiayo perbaiki lagi, kamu pasti bisa.’

Solusi: jika agan merasa berat untuk melakukannya. Mulailah dengan cara sederhana, berikan senyuman termanis ketika sang anak melakukan perbuatan/memperoleh hasil yang benar. Kemudian jika itu sudah dijalani, ungkapkanlah pujian itu juga dengan verbal. ‘selamat ya/kamu hebat, nanti ditingkatkan lagi ya.’

 

 

 

Tantangan: perlu kreativitas untuk dapat menemukan kosa kata positif yang sinonim/semakna, untuk menghindari penggunaan kalimat negatif.

Tantangan: perlu kesabaran dan kemampuan untuk menahan diri, agar sang anak paham proses yang sebenarnya. Sehingga agan bisa tetap tersenyum dan terus mengarahkan sang anak, walaupun berkali-kali menghadap agan dengan hasil yang kurang memuaskan. :)

Tantangan: perlu kelapangan hati untuk dapat mengungkapkan pujian. Perlu juga untuk menahan diri agar pujian yang diberikan tidak berlebih-lebihan, sesuai dengan porsinya.

 

Itu cara yang termudah untuk menerapkan hypnoteaching. Selanjutnya, ane mau menuju prinsip utama dalam hipnotis itu sendiri. Agar apa yang fasilitator ingin berikan (baik itu materi, nasehat, dan lain sebaginya) bisa masuk dan diterima oleh peserta didik agan, jangan lupa untuk mengondisikan lingkungan kelas agan. Kondisikan lingkungan belajar dan cara mengajar agan biar para siswa bisa nyaman. Karena prisnsip utama dari hipnotis adalah pengondisian seseorang dalam keadaan rileks, nyaman, dan santai.

 

Alternatifnya agan bisa membuat suatu permainan (game) dalam menyajikan materi tersebut. Selain itu, buat situasi sebelum pelajaran, ketika pelajaran, dan setelah pelajaran yang membuat anak-anak rileks. Atau bisa juga dengan menciptakan situasi yang dinamis di dalam kelas. Selebihnya mungkin agan-agan pembaca punya cara tersendiri agar situasi di dalam kelas bisa nyaman dan rileks, sila saling berbagi di sini! :) 

 


Gimana caranya biar nyaman dan rileks? Ane bakal bagi sambungan pengalamannya pada artikel mendatang. So, pantengin terus ya up-date-annya... :)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :