PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Dua Tempeh Nasi Aking

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 14 May 2013
di Catatan Pagi - 0 komentar

Dua tempeh nasi aking. Itulah yang aku lihat hari ini. Biasanya hanya satu tempeh, atau malah hanya setengah tempeh. Tetapi entah kenapa hari ini begitu banyak nasi aking yang terkumpul.

 

Aku mengontrak rumah, dengan teman-temanku. Katakanlah rumah yang kami kontrak ini memiliki pagar dari tembok. Sangat nyaman untuk duduk-duduk di atasnya. Terlebih muka rumah yang aku sewa berbatasan langsung dengan jalan gang yang selalu ramai. Rumahku memang strategis. Di depan rumahku adalah rumah Pak Imam. Isterinya adalah pedagang keliling. Sebutlah Bu Imam. Beliau menjajakan pecel yang sangat lezat. Juga Bu Imam menjajakan makanan dan minuman lainnya. Di sebelah kiri rumahku adalah seorang Bapak Tua yang hidup dengan anaknya. Sudah sepuh. Beliaulah yang selalu ‘menitip’ untuk menjemur tempeh berisi nasi aking di atas pagar rumahku.

 

Pertama kali aku meninggali rumah itu, ‘sedikit’ terganggu dengan kebiasaannya yang selalu ‘menitip’ menjemur nasi aking. Bayangkan bagaimana baunya nasi aking ketika dalam keadaan basah, kemudian tersinari matahari Surabaya yang panas. Selain itu, sangat merusak pemandangan. Orang yang tidak tahu  mungkin melihat penghuni rumah berpagar tembok inilah yang memiliki nasi aking tersebut. Sangat ‘tidak elit’ dan menjatuhkan ‘gengsi’ sang penghuni rumah yang pagarnya ditumpangi. Secara, kita adalah MAHASISWA.

 

Waktupun beranjak, sayapun semakin mengenal Bapak Sepuh tersebut. Aku mengenalnya saat sholat berjamaah di Masjid samping rumah. Beliau begitu ramah dan bersahaja. Lambat laun, ketika bertemu dengannya, beliau selalu  tersenyum. Ketika di Masjid, beliau pula sering mengajak untuk berjabat tangan lalu merekahkan senyuman. Saban hari, ketika aku sudah agak lama tidak berjamaah di Masjid samping rumah karena saya sering pulang larut, beliau menghampiriku terlebih dahulu, menjabat tanganku, dan memberikan senyum terbaiknya. Sering juga, beliau sholat sunnah setalah maghrib mengambil tempat di sampingku, biasanya saat seperti itu aku masih sedang duduk berdoa.

 

 

Ritme seperti itu membuatku jadi paham, mungkinkah ini bentuk terima kasih beliau yang sering menitipkan tempeh berisi nasi akingnya di atas pagar rumahku. Beliau tidak berterima kasih dengan kata-kata, tetapi berterima kasih dengan ketulusan jiwa yang terpancar dari perbuatan dan keramah tamahannya.

 

 

Maka hari ini, aku menyaksikan dua tempeh nasi aking di atas pagar rumahku. Tak ada gerutuan atau ketidaknyamanan. Itu semacam rutinitas yang berjalan seperti biasanya. Justru sekarang malah memberikan pelajaran. Bapak Sepuh itu seolah terus mengingatkanku tentang sebuah ketulusan dan pentingnya untuk hidup tidak menghambur-hamburkan.

 

 

Nasi aking di dalam tempeh itu seolah berbincang denganku ‘Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

 


Senin, 6 Mei 2013 | 7:38 wib

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :