PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Spirit dalam Kebaikan

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 23 April 2013
di Catatan Pagi - 0 komentar

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Suatu intisari hadits yang telah disabdakan oleh seorang manusia sempurna berjuta-juta abad lamanya, silam. Hadits yang secara bahasa arab mungkin (dahulu) sewaktu di Taman Pendidikan Alquran (TPA) saya masih menghafalnya. Namun sekarang saya hanya tahu intinya, dan mulai bisa merasakan maknanya.

Suatu ‘statement’, jika memang hadits tersebut ingin disebut sebagai ‘statement’, yang sangat sederhana, sekilas. Bagi saya, yang dahulu sewaktu masih menghafalkan secara bahasa arabnya ‘saja’, statemen nabi tersebut tidak ada apa-apanya. Bahkan sampai menginjak beberapa waktu yang lalu, yang mana saat ini saya telah berkepala dua ‘bercabang’ belum dapat memaknai apapun artinya.

Tetapi entahlah, mungkin Allah memberikan pencerahan kembali kepada hambaNya yang penuh dosa ini, melalui apa yang saya jalani.[1] Hal ini bermula dari beberapa minggu lalu, ketika saya tiba-tiba menjadi seorang yang gila aktivitas (saya tidak ingin menyebut diri sibuk, karena memang belum waktunya). Sabda nabi inilah yang menjadi loncatan kuat saya untuk terus dapat berbuat semaksimal mungkin untuk lingkungan dengan apa yang kita bisa lakukan.

Agak rumit untuk menjelaskan hendak memulai dari mana. Awalnya kesadaran itu muncul, ketika saya mulai menggeluti aktivitas magang, kepala divisi di badan eksekutif fakultas, menjadi pj kegiatan suatu ormek yang orang-orangnya ‘agak’ mampet untuk diajak kerjasama, dan mengawal temen-temen kerohanian islam di fakultas yang sekarang sudah dipegang kepengurusan hariannya oleh adik-adik kelas tersayang. Juga jangan dilupakan tugas utama sebagai mahasiswa, yakni kuliah.

Setelah ini saya menyadari, dan dengan kesadaran yang mulai menaik saya update status facebook, yang kurang lebih intinya:

          Tidak terasa sekarang saya sudah semester enam, sudah cukup lama saya belajar di institusi tempat saya menuntut ilmu. Banyak ilmu yang sudah saya dapatkan dari institusi tersebut. Tinggal sekarang bagaimana saya bisa memberikan ‘sesuatu’ kepada institusi tersebut. Semoga amanah yang diberikan di fakultas ini bisa menjadi salah satu cara buat memberikan ‘sesuatu’ kepada intitusi tempat saya menuntut ilmu.   

Maka mulailah diri saya untuk dapat melakukan yang terbaik seoptimal mungkin. Hingga tanpa terasa hari-hari saya mulai dipadati dengan aktivitas. Aktivitas yang memberikan semangat dan lelah, juga semakin menambah gairah untuk terus melakukan semaksimal mungkin apa yang bisa saya lakukan dengan aktivitas tersebut.

Di sela-sela aktivitas itu semua, saat kelelahan mulai terasa. Diri saya bertanya-tanya ‘ngapain saya melakukan aktivitas-aktivitas yang menguras tenaga, tapi yang menikmati hanya orang lain’ apa untungnya untuk saya coba?

Pertanyaan itu cukup bisa menyurutkan semangat saya untuk dapat beraktivitas dengan kewajiban dan amanah yang saya miliki. Terlebih ketika amanah yang saya emban, benar-benar terasa sangat berat. Terasa berat karena di saat saya ingin melaksanakan amanah tersebut dengan sungguh-sungguh ada beberapa oknum yang ternyata tidak dapat diajak kerjasama, serasa seorang diri. Dan itu membuat saya sangat kecewa. Dan kekecewaan-kekecewaan lain pun mulai timbul akibat lingkungan yang sangat terkesan egois.

Kekecewaan yang terus menggerogoti terus berperang dengan keinginan saya untuk dapat memberikan usaha maksimal dengan apa yang saya kerjakan dan emban sekarang. Di saat itu semua terjadi, di dalam benakku terlintas makna hadits tersebut. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Kesadaran tersebut mulai timbul, menambah semangat saya untuk memberikan yang terbaik dengan apa yang saya emban dan kerjakan, dengan bisa menjadikan bermanfaat bagi orang lain juga. Berlipat-lipat sudah peningkatan semangat saya untuk dapat megerjakan seoptimal mungkin.

Saya sangat bersyukur kembali kepada Allah, yang telah menyelipkan hadits tersebut di bebak saya. Hingga sampai saat ini saya merasakan kenikmatan yang tidak pernah dapat terlukiskan dengan kata-kata. Sabda yang dilontarkan oleh sang Nabi begitu ajaib dan sangat manjur. Semoga semangat ini tetap konsisten, tidak surut diterjang badai ujian.

Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan, dengan seoptimal mungkin. Kamu mungkin akan menghadapi kekecewaan yang berasal dari manusia sesamamu. Tetapi ingatlah, bahwa Sang Nabi dengan sabdanya telah memberikan janji, bahwa manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

 



[1] Saya lebih suka menggunakan pencerahan dari Allah, daripada insight. Karena menurut saya insight (pencerahan) hanya melibatkan unsur kognisi dan keadaan di sekelilingnya saja. Cenderung melupakan sifat-sifat keterlibatan Tuhan dalam proses kehidupan ini. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :