PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

SEPENGGAL HIKMAH DI SUDUT RUMAH SAKIT HAJI (2) *

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 24 November 2012
di Pengalaman Hidup - 0 komentar

by: Hilman L. Hakim a.k.a Lukim

 

Sabtu, 17 Nopember 2012. Keceriaan itu seolah hilang entah kemana, tinggalah kekhawatiran yang semakin menguasai keadaan. Segala usaha dan doa terus dilakukan, tetapi tidak ada perkembangan berarti yang ia tunjukkan. Tetapi aku takjub melihat ketegaran dan ketabahan yang ditunjukkan oleh Sang Abi dan Ummi, keduanya telah ikhlas menerima apapun yang akan terjadi. Segala kemungkinan terbaik dan terburuk telah beliau persiapkan. Dibantu oleh tiga sahabat seperjuangan di salah satu organisasi sosial, dan beberapa sahabat seangkatan lainnya yang telah rela meluangkan waktu dan tenaganya, beliau meminta tolong untuk mempersiapkan segalanya. 

 

Sore itu, aku mendapat berita mencengangkan. Bahwa pihak dokter telah angkat tangan, dan semua pengobatan untuk membantu jalannya kehidupan ia telah dihentikan. Hanya alat bantu pernafasan yang masih terpasang untuk membantu detak jantung ia. Tinggal menunggu Keputusan dan Mukjizat dari Sang Pemilik Kehidupan. Hanya doa-doa yang tersurat dan tersirat dari hati-hati yang mengharapkan Kuasa-Nya.

Malam hari, aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga bagi kehidupan. Aku melihat kematian. Seorang dari pasien yang dirawat di ruang ICU telah meninggalkan alam fana ini untuk selam-lamanya. Pergi untuk memenuhi panggilan Sang Pemiliki Jiwa dan Raga. Isak tangis dan jeritan tak tertahan dari pihak keluarga memenuhi ruang tunggu ICU. Itu semakin membuat kekhawatiran semakin menjadi-jadi. Kullu nafsin dzaaiqatul maut... setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Allahummaghfir lahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu anhu...

 

Tak selang begitu lama, aku kembali menyaksikan peristiwa kematian bergulir kembali. Aku merasakan ini adalah sebuah mimpi. Peristiwa yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Kembali, suasana haru biru menyelimuti ruangan tunggu ICU. Untuk kedua kalinya pula aku melihat keranda diusung meninggalkan ruangan tersebut, dan isak tangis kembali pecah pada malam itu. Sebuah keluarga yang telah ada menunggu di ruangan ICU sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di sana. Aku melihat sepasang suami isteri yang mulai dimakan usia, serta seorang anak laki-laki berusia sekitar SMP, dan seorang lelaki yang ditaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun diselimuti duka. Mungkinkah yang meninggal itu adalah ibu bagi si anak laki-laki berusia sekitar SMP, anak dari sepasang suami isteri yang mulai dimakan usia, dan isteri dari lelaki yang ditaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun.   

 

Dan kembali aku diberikan perenungan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah larutnya malam yang semakin mencekam.

 

Minggu, 18 Nopember 2012. Aku kembali pulang ke rumah di pagi hari. Kantuk datang menghadang, bergegas rasanya mata ini ingin segera terpejam, larut untuk sekadar rehat memberikan hak pada tubuh ini. Namun, saat sepeda motor yang aku naiki memasuki gang menuju rumah kontrakanku, aku disambut dengan bendera putih dengan dua garis merah yang membagi persegi bendera tersebut menjadi empat segi empat. Seorang tetangga rumah kembali telah meninggalkan alam ini. Ya Allah, pertanda apakah ini?? Aku hanya terus berprasangka baik, bahwa segalanya adalah ketentuan terbaik bagi Allah.

 

Hari minggu menjelang malam, aku dititipi oleh temanku yang dengan sabar dan rajin, juga tidak lelah dari awal menunggui ia untuk membeli makanan untuk orang yang berjaga, namun rupanya aku memasuki tempat penjual makanan yang kurang tepat. Saya harus menunggu hingga satu setengah jam lamannya sampai akhirnya pesananku dapat diambil. Akibatnya terjadi pembatalan pesanan, ya sudahlah, mungkin malam ini aku tidak bisa datang untuk menjenguk ia. Insya Allah besok akan ke Rumah Sakit Haji lagi... fikirku.

 

Saat hendak tidur, aku mengganti nomor Hpku yang biasa dipakai untuk berkomunikasi dengan kartu modem. Terlelap sudah, menanti esok hari yang akan menjemput.

 

Senin, 18 Nopember 2012. Salah satu temanku menceritakannya, aku mendengarkan langsung dari sumber pertamanya. Malam itu, yang berjaga semuanya tertidur lelap, kecuali temanku yang menceritakan ini memang tidak tertidur. Jelang berganti hari, pukul 00.00 kurang, temanku melihat Sang Ummi terbangun dari tidurnya. Beliau terlihat gelisah. Tak lama Sang Abi dan teman-temanku yang menemani ia pada dini hari itu juga turut terbangunkan. Saat kurang lebih pukul 00.15, semua yang hadir di sana disilakan untuk memasuki ruang ICU tempat ia berbaring. Tak lama kemudian, peristiwa itu pun terjadi. Saat tubuh meregang nyawa, dan Izrail melaksanakan titah Tuhannya untuk menunjukkan kuasa bahwa telah tiba saatnya, waktu yang telah Allah janjikan bahwa itulah jalan yang terbaik untuk ia tempuh. Innalillahi wa inna ilaihii raaji’un... sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita akan dikembalikan.

 

Pagi hari, aku baru mendapatkan kabar berita duka itu. Saat kejadian itu, beberapa temanku yang berjaga di sana berusaha menghubungiku melalui nomor yang biasa ku pakai untuk berkomunikasi. Namun tidak berhasil.

 

Setelah mendapat kabar berita tersebut, aku langsung menuju RS Haji. Rasa kehilangan sangat terasa dan tentunya kesedihanpun turut mencampurnya menjadi satu. Aku yakin, inilah ketentuan terbaik yang telah Allah berikan kepadamu wahai saudaraku. Kami menyayangimu, tetapi Allah ternyata lebih lebih sayang lagi kepadamu.

 

Teruntuk sahabatku, saudaraku, dan orang yang penuh semangat: Almarhum Hafizuddin Ahmad, pergilah sobat. Pergilah dengan ketenangan dan kebanggan sebagai husnul khotimah. Pergilah dengan segenap cinta yang tercurahkan dari Rabb-mu. Pergilah dengan sertaan kasih sayang yang tercurah dari orang-orang di sekelilingmu. Kendati jasad telah bersatu dengan tanah dan tidak lagi ada bersama di kehidupan dunia ini, namun di hati kami engkau tetap terasa selalu ada. Kami ikhlas, karena yakin inilah jalan yang terbaik bagimu.

 

Sesosok figur yang senantiasa semangat, selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Sesosok yang selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja, tanpa memandang posisinya ia berada. Sesosok yang penuh inspirasi, dengan senyumannya dan sapaan hangatnya saat berjumpa. Sesosok yang selalu menebarkan ukhuwah kepada saudara-saudaranya. Sesosok yang sangat peduli dengan kesulitan sahabat dan teman-temannya. Sesosok sahabat yang senantiasa menebarkan kebaikan sebisa yang dapat ia lakukan.

 

Selamat jalan sabahat!

 

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irji’ii ilaa robbiki roodhiatan mardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannati.

 

 

Epilog:

Tidak terasa, di dalam kebersamaan kita yang singkat ini engkau begitu cepat pergi mendahului. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu. Sebagai seorang kakak, saudara, dan sahabat. Kenangan-kenangan yang pernah kita lalui, sungguh akan selalu aku simpan erat kendati di alam fana ini kita tak bisa berjumpa lagi. Semoga kelak kita dipertemukan kembali di alam yang penuh kebahagiaan, bersama orang-orang yang saling cinta-mencinta dan saling sayang menyayang karena Allah. Allah lah satu-satunya pemilik cinta dan semurni-murninya pemilik kasih sayang, hanya kepada Dia kita semua memohon ridlo-Nya. 

 


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal bisa jadi ia adalah yang terbaik bagi kamu. Dan bisa jadi kamu mencintai sesuatu , padahal ia adalah tidak baik bagi kamu. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu (manusia) tidak mengetahui.” (Q.S. Albaqarah: 216)

*kisah nyata yang dialami oleh penulis

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :