PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

SEPENGGAL HIKMAH DI SUDUT RUMAH SAKIT HAJI (1) *

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 24 November 2012
di Pengalaman Hidup - 0 komentar

by: Hilman L. Hakim a. k. Lukim


Prolog:

Wahai hidup, sungguh kamu selalu memberikan sejuta misteri. Selalu datang kejutan secara tiba-tiba, tanpa diduga adanya. Bilakah ini semua direnungi, tentu ada hikmah di balik semua misteri yang terjadi. Sebagai sebuah peringatan sekaligus pembelajaran bagi manusia-manusia yang masih mengecap kehidupan ini. Pertanda dari kehidupan adalah adanya kelahiran dan datangnya kematian.

 

Untuk kesekian kalinya, duka dan rasa kehilangan seorang sahabat menguasai diriku. Kejadian ini bermula pada hari Senin tanggal 12 Nopember 2012. Seorang kawanku dinyatakan masuk ruang IGD RS Haji Surabaya setelah dibawa oleh kedua temannya. Katanya sih muntah darah, tapi berdasarkan hasil analisis dokter, itu bukan darah tetapi asam lambung. Akhirnya ia dirawat inap di rumah sakit. Aku merasa ia akan cepat sembuh, sakit seperti itu relatif cepat tertangani dan sembuh biasanya. Untung pada hari itu, ada keluarga Pak De dan Bu De nya yang sedang berkunjung ke Surabaya, sehingga ada dari pihak keluarga yang mendampingi. Aku masih melihat dia bangun dan kembali segar setelah mendapat cairan infus, karena sebelumnya ia terlihat lemas dan kekurangan cairan tubuh. Makanan pun tak sanggup ia cerna, kembali dimuntahkan.

 

Hari Senin itu, pada siang harinya aku berjaga sebentar dan menyempatkan diri mengambil tikar untuk digunakan buat yang akan menungguinya. Setelah itu akupun pamit pulang. Di dalam hati aku berharap ia akan baik-baik saja.

 

Malam berlanjut, Selasa 13 Nopember pun tiba. Aku menjalani rutinitas seperti biasanya. Kebetulan saat itu jadwal kuliah saya penuh. Sekitar jam 16.00 aku mendapatkan kabar bahwa dia masuk ruang ICU. Berita itu sangat mengagetkanku, “Ya Allah begitu parahkah penyakitnya hingga harus masuk ruangan yang paling aku tidak ingin membanyangkannya.” Aku dengan temanku kembali mengunjunginya.

 

Pada hari itu, tamu yang berkunjung belum diperbolehkan untuk melihat kondisinya. Hanya pihak keluarga saja yang bisa masuk. Tidak apalah, yang penting segera sembuh. Kali ini Pak De dan Bu De nya sudah pulang ke Jakarta, Digantikan oleh kedatangan Sang Ayah, yang biasa ia panggil dengan sebutan Abi. Aku melihat gejolak kekhawatiran terpancar dari keruhnya muka Sang Ayah.  Lelah karena baru datang dari perjalanan Jakarta-Surabaya menambah keruhnya muka.

 

Temanku yang biasa dan dengan sebar menungguinya bertutur, bahwa ia sejak dari dzuhur telah masuk ruang ICU. Temanku yang menjaganya menceritakan kesakitannya menghadapi penyakit yang sedang menyerangnya. Terlihat ia menjadi seorang pemarah, mungkin sebagai bentuk pelampiasan atas rasa sakit yang dideritanya. Ia meronta-ronta menahan sakit, sampai-sampai tangannyapun diikat ke ranjang tempat ia berbaring untuk menahan rontaannya. “Astaghfirullah, sungguh menyakitkan.”

 

Akhirnya, aku dan temanku yang lainnya memutuskan untuk menemani mereka di Rumah Sakit malam itu, berbekal satu buah bantal, satu buah selimut tipis, dan peralatan makan seadanya. Berharap bisa memompakan spirit buat keluarganya. Begitu cepatnya penurunan kondisi ia.

 

Hari Rabu pagi, 14 Nopember 2012. Hanya doa dan harapan yang memenuhi benak yang hadir di sana. Pagi yang mengenaskan. Aku melihat banyak juga pasien yang dirawat di ruang ICU. Pagi itu, satu persatu pihak keluarga diminta untuk masuk ke ruangan ICU, dalam rangka pembinaan rohani. Di sana pihak keluarga berdoa untuk memohon kesembuhan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Tiba saatnya Sang Abi dipanggil lewat pengeras suara. Suasana pun terasa mencekam, ada gurat-gurat kesedihan dan kekhawatiran yang mendominasi ruang tunggu ICU itu.

 

Saat keluar dari ruangan, Sang Abi rupanya tidak bisa menahan kesedihannya. Aku melihat sudut-sudut matanya digenangi oleh air mata kesedihan diiringi isakan-isakan tertahan. Sedikit banyak, situasi tersebut menimbulkan efek yang serupa kepada kami yang turut menungguinya. Sungguh mengharu biru. Temanku yang dengan sabar dan rajin dari awal menungguinya pun ikut tergugu. Menangis  menumpahkan kesedihan. Aku dan temanku hanya bisa melihat dan merasakan situasi tersebut dengan masygul. Aku dan temanku berusaha sebisa mungkin menenangkan mereka. Hanya doa dan upaya yang bisa kami lakukan saat itu. “Ya Allah, berikanlah ketabahan kepada keluarganya dalam menanggapi cobaan yang Engkau berikan, dan berilah kesembuhan kepada ia yang tengah berbaring di ruang ICU sana.” Doaku.

 

Setelah mulai tenang, Sang Abi mulai bisa mengendalikan diri. Aku mendekatinya, setidaknya memberikan spirit kepadanya untuk bisa saling berbagi duka. Aku dan Sang Abi hanya sedikit mengobrol, aku paham situasnya. Sempat beliau menanyakan teman-teman dikuliahan ia. Aku mengatakan bahwa saat itu juga aku sedang mengabari teman-teman ia. Aku yakin, beliau sangat membutuhkan dukungan spirit. Kedatangan orang lain, sedikit banyak akan memberikan ketenangan psikologis bagi beliau dan juga tentu keluarganya, yang memang saat tersebut sedang jauh dari rumah. Seolah menjadi bahasa kiasan, Banyak yang peduli dengan putramu Abi, berbagilah....

 

Menjelang siang, aku dan temanku harus berpamitan. Masih ada agenda kuliah dan agenda-agenda lainnya yang harus dikerjakan. Akhirnya aku, temanku, dan temanku yang dengan sabar dan rajin menungguninya menguhubungi teman-teman lain untuk berjaga menunggui ia dan menemani Sang Abi. “Alhamdulillah... ada yang bisa.” Aku pun pulang bersama temanku.

 

1 Muharram 1434 Hijriyyah, tahun baru yang penuh duka.

 

Masih pada hari Rabu. Rasanya hari Rabu itu adalah Rabu yang penuh kejutan menyedihkan yang pernah aku rasakan. Aku kembali menerima kabar bahwa ia akan dioperasi. Innalillahi... cobaan apalagi yang Engkau berikan Ya Allah. Aku berusaha berprasangka baik, mungkin inilah jalan kesembuhan yang akan Allah berikan. Aku dan temanku kembali bertandang menuju RS Haji, saat itu lewat maghrib. Telah banyak sahabat-sahabat baik ia yang telah menungguinya di sana saat aku dan temanku sampai. Memang, sejak tadi pagi, sms pemberitahuan tentang kondisi ia telah disebar sedemikian lupa. Baik via sms, jejaring sosial, maupun cara komunikasi tradisional yang tetap ampuh untuk menyampaikan pesan, mouth to mouth.

 

Alhamdulillah... aku bersyukur melihat banyaknya teman-teman ia yang hadir menjenguk. Memberikan kekuatan spiritual bagi ia khususnya dan keluarga yang saat itu hanya masih ada Sang Abi. Diberitakan langsung dari temanku yang dengan sabar dan rajin, juga tidak lelah dari awal menungguinya bahwa ia masuk ruang operasi sejak pukul 18.15-an. Detik-detik menegangkan itu dirasakan bersama. Aku mendapat kabar bahwa yang dioperasi bukan bigian perut, tetapi ada pendarahan di otak yang mengharuskan dokter membuka batok kepala ia dan melakukan penanganan terhadap bagian vital dari manusia tersebut. Ya Rabb...

 

Aku lihat Sang Abi terduduk di salah satu sudut ruangan menuju ruang operasi, sementara aku dan teman-temanku hanya menunggu di luar ruangan. Aku perhatikan bahwa tidak terkira beban emosional yang ditanggung oleh Sang Abi. Kata-kataku tidak cukup mendeskripsikan kondisi emosi beliau yang karut marut. Hanya doa yang tersembul dari hati-hati yang penuh harap padamu Illahi...

 

Menjelang tengah malam, operasi dinyatakan selesai. Meski sempat terjadi masalah yaitu pihak dokter bedah memerlukan darah untuk ia, dan pada saat itu kondisi golongan darah ia tidak diketahui dan harus mencari darah ke PMI, tetapi akhirnya teratasi juga. Suasana tegang mulai mereda. Sinar-sinar penuh harapan kembali muncul. Saat ia mulai dikeluarkan dari ruang operasi semua perhatian tertuju kepadanya.

 

Ia tergolek lemah di atas ranjang yang beroda. Selang-selang menusuk tubuhnya, mengalirkan cairan dan obat-obatan untuk membantu aliran kehidupan yang masih melekat pada ia. Di kepala kirinya terdapat lapisan perban putih yang menutupi jahitan kulit kepala yang menyelimuti otak. Tubuhnya terpejam. Hanya detak jantung yang terlihat menggerak-gerakkan tubuhnya. Tubuh tak berdaya itu kembali dibawa menuju ruang ICU.

 

Masa pun bubar, namun masih ada sebagian yang menemani ia menuju ruang perawatan, termasuk Sang Abi, yang kini terlihat lebih ceria dan lebih tabah menghadapai ujian tersebut. Malam pun beranjak larut, untuk kali ini aku dan temanku belum bisa menemani ia lagi. Hanya doa kesembuhan yang terus menemanimu saudaraku.

 

Kamis, 15 Nopember 2012 pasca operasi. Hari itu, tahun baru Hijriyyah yang tengah bergulir memberikan semangat dan optimisme baru. Begitu pula pada Sang Abi yang kini telah ditemani oleh isteri tercinta (ia biasa memanggil beliau Ummi) dan beberapa kerabat dekatnya yang datang semalam. Ada optimisme yang menimbulkan ketabahan saat Sang Ummi hadir. Aku melihat rona yang berbeda dari hari-hari sebelumnya pada Sang Abi. Aku yakin, di sinilah kekuatan seorang isteri juga seorang ibu berperan. Kehangatannya senantiasa memberikan kekuatan untuk terus berjalan menempuh kehidupan. Seorang yang agung dan mulia yang memiliki peran luar biasa dalam kehidupan kita. (Aku jadi rindu ayah dan ibuku di kampung halaman sana, semoga Allah selalu menyertai dan memberikan kesehatan selalu kepada kalian).

 

Selepas maghrib, menjelang isya. Aku kembali menuju Rumah Sakit Haji, kali ini tidak ditemani lagi oleh temanku yang biasanya. Tetapi ditemani oleh temanku lainnya. Suasana yang lebih cerah lebih terasa di ruang tunggu itu, selain Sang Abi dan Sang Ummi; kerabat-kerabat dekatnya yang datang dari Depok; juga temanku yang dengan sabar dan rajin, juga tidak lelah dari awal menunggui ia; juga ada tambahan personil tiga orang sahabat seperjungan ia di salah satu organisasi sosial; juga para pembesuk yang silih berganti memadati ruangan. Semua hadir untuk memberikan doa dan dukungan moril akan kesembuhan ia. Aku semakin merasakan jalinan ukhuwah atas kebaikan yang telah disemai oleh ia selama ini. Semakin mengukuhkan bahwa ia adalah orang yang selalu menebarkan manfaat dari diri ia bagi orang lain. Semakin menegaskan sosok ia yang memiliki karakter yang selalu membantu orang lain yang membutuhkan bantuan.  Dan hal positif lainnya yang pernah ia lakukan di dalam kebersamaan bersama teman-temannya, terlepas dari sisi negatifnya ia sebagai seorang manusia biasa.

 

Malam pun semakin larut, ada banyak orang yang saat itu menemani ia, termasuk menemani Abi dan Ummi ia. Aku memutuskan pulang bersama temanku, malam itu aku tidak menginap.

 

Jumat, 16 Nopember 2012. Tidak ada perubahan yang berarti bagi kondisi ia. Keceriaan yang sempat terasa kembali diburu oleh kehawatiran. Bukan tanpa alasan, setelah 2x24 jam pasca operasi tidak ada perubahan yang signifikan menuju tanda-tanda yang lebih baik. Kondisi kritis belum juga berhasil ia lalui. Belum lagi ada informasi yang tersebar melalui desas desus, bahwa hanya 10% kemungkinan ia berhasil. Cukup beralasan untuk khawatir, sempat ada usul untuk dirujuk ke rumah sakit lain, tetapi entahlah, aku tidak terlalu mengetahui bagaimana kelanjutannya. Yang bisa kulakukan di saat-saat seperti itu hanyalah doa kepada Sang Pemilik Kehidupan. Rutinitasku tidak jauh dari hari-hari sebelumnya, membesuk dan terkadang menemani berjaga malam di rumah sakit.

 

Sepertinya kabar tentang kondisi ia yang kritis cepat tersebar, kali itu lebih banyak orang yang menjenguk ia. Dan lebih banyak pula yang menemani berjaga malam di rumah sakit. Alhamdulillah...

 

Pada malam itu, untuk pertama kalinya aku bisa melihat kondisi ia di ruang ICU secara langsung pasca operasi. Sungguh tidak tega aku melihat ia. Terbaring tidak berdaya dengan banyak selang yang menancap memenuhi tubuhnya. Aku bertadarus di sampingnya dan aku ajak ngobrol seperti layaknya orang sehat. Semampu mungkin membisikkan kata-kata motivasi ke telinganya. Berjuanglah saudaraku, aku yakin kamu akan sembuh...kami ada di sampingmu.

 

Malam itu, aku tidak menginap di sana, dan pihak keluarga dekat ia pun hendak pulang ke Depok jam 22.00. Tinggalah Sang Abi; Ummi; temanku yang dengan sabar dan rajin, juga tidak lelah dari awal menunggui ia; juga ada tambahan personil tiga orang sahabat seperjungan ia di salah satu organisasi sosial; juga beberapa orang sahabat ia yang menyempatkan untuk turut berjaga. (Bersambung)

 


 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal bisa jadi ia adalah yang terbaik bagi kamu. Dan bisa jadi kamu mencintai sesuatu , padahal ia adalah tidak baik bagi kamu. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu (manusia) tidak mengetahui.” (Q.S. Albaqarah: 216)

*Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh penulis

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :