PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Pengukuran Coping Stress

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 08 November 2012
di Nyangkut ke Psikologi - 0 komentar

Pengukuran coping strategi pada mahasiswa tingkat awal perantauan luar jawa timur di Surabaya

  1. 1.      Pendahuluan

Latar Belakang

Stres merupakan hal yang akan dialami oleh setiap manusia. Karena dengan adanya stress tersebut, jika stres tersebut optimal, akan membuahkan tantangan dan motivasi untuk maju bagi individu (Spangenberg & Theron, 1998 dalam Safaria, 2007). Tetapi tidak jarang pula stres akan memberikan implikasi negatif bagi individu apabila tidak menemukan solusi yang tepat. Crampton dkk (1995) dalam Safaria (2007) menyatakan bahwa akumulasi stres terjadi karena ketidakmampuan individu dalam mengatasi dan mengendalikan stresnya.

Bagi seorang mahasiswa, penyebab timbulnya stres baik secara internal maupun eksternal sangat bisa dirasakan. Secara eksternal, stresor yang muncul dapat dari eksternal bisa berupa tugas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua, dan penyesuaian sosial di lingkungan kampusnya (Safaria, 2007). Terlebih lagi bagi mahasiswa perantauan yang harus mengalami penyesuaian lingkungan sosial yang cukup berbeda dari lingkungan sebelumnya.

Stres yang tidak bisa dimanajemen dengan baik akan mengahasilkan gejala-gejala fisik maupun mental yang tidak baik. Baik secara fisik maupun mental. Secara fisik, dapat terlihat dari menggigit-gigit kuku, berkeringat, mulut kering, dan lain sebagainya. Secara mental, gejala-gejala stres yang muncul diantaranya kemarahan yang tak terkendali atau lekas marah/agresif, mencemaskan hal-hal kecil, ketidakmampuan dalam memprioritaskan, suasana hati yang tidak bisa ditebak, ketakutan atau fobia yang berlebihan, hilangnya kepercayaan pada diri sendiri, cenderung menjaga jarak, terlalu banyak berbicara atau benar-benar tidak komunikatif (Walia, 2005). Sedangkan dampak perilaku yang muncul berupa menunda-nunda peneyelesaian tugas kuliah, malas kuliah, penyalahgunaan obat dan alkohol, terlibat dalam kegiatan mencari kesenangan secara berlebih-lebihan dna berisiko tinggi (Heiman & Kariv, 2005; Rice, 1992; Spangenberg &Theron, 1998 dalam Safaria, 2007).

Strategi coping yang digunakan oleh individu  merukan salah satu faktor yang menentukankan pengendalian dan pengatasan stres secara efektif (Lazarus dan Folkman, 1984). Coping menurut Lazarus dan Folkman didefinisikan sebagai proses pengelolaan antara tuntutan-tuntutan baik yang berasal dari dalam amupun luar individu dengan menggunakan sumberdaya untuk menghadapi tekanan (Smet, 1994). Jika individu tersebut dapat secara efektif mengendalikan situasi yang menekan, maka dampak negatif dari stress akan tereduksi. Oleh itu, pengukuran coping stress terhadap  mahasiswa tingkat awal yang berasal dari luar jawa timur yang kuliah di Surabaya menarik untuk dilakukan.

 

Tujuan

Untuk membuat alat ukur yang terkait dengan coping stres pada mahasiswa perantauan yang berasal dari luar Jawa Timur.

 

  1. 2.      Landasan Teori

Konstruk

  1. Definisi Stres

Menurut Krohne (2002) definisi stres dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu berdasarkan pendekatan sistemik stres yang mengacu kepada fisiologi dan psikobiologi (Selye, 1976) dan pendekatan stres secara psikologi yang dibangun dalam ranah psikologi kognitif (Lazarus, 1966, 1991; Lazarus & Folkman, 1984; McGrath, 1982).

          Krohne (2002) memberikan gambaran definisi yang dikemukakan oleh Selye (1976):

                  “a state manifested by a syndrome which consists of all the nonspecifically induced changes in a biologic system.”

 

Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan stres sebagai:

“as any avent in which environmental demands and/or internal demands (physiological/psychological) tax or exceed the adaptive resources of the individual, his or her tissue system, or the social system of wich one is part.”

                        Artinya, stres dapat disimpulkan sebagai suatau keadaan yang menuntut dan membebani individu baik seara fisiologis maupun psikologis yang menimbulkan tegangan, sehingga individu berusaha untuk mengatasinya (Safaria, 2007).

  1. Pengertian Coping

Lazarus (1993) mendefinisikan coping sebagai berikut:

“coping is defined as ongoing cognitive and behavioral efforts to manage specific external and/or internal demands that are appraised as taxing or exceeding the resources of the person.”

Jika diterjemahkan secara umum dari definisi yang diberikan oleh Lazarus tersebut, coping adalah upaya perilaku dan kognitif yang berlangsung untuk mengelola tuntutan khusus internal dan/atau eksternal yang dinilai sebagai sesuatu yang membertakan atau melebihi sumberdaya orang tersebut.

Lebih lanjut, di dalam Psycological Abstract perilaku koping didefinisikan sebagai penggunaan strategi kesadaan dan ketidaksadaran atau mekanisme dalam mengadaptasi stres, bermacam-macam gangguan, atau tuntutan lingkungan (American Psychological Asosiation, 1982 dalam Dyk & Schvaneveldt, 1987).

 

  1. Strategi Coping (Coping Strategies)

Lazarus dan Folkman (dalam Taylor, 1999) terdapat dua jenis coping, yaitu berorientasi pada permasalahan (problem-solving focused) dan berorintasi pada emosi (emotion focused). Keduanya akan dijelaskan sebagai berikut (dalam Auerbach dan Grambling, 1998).

Berorientasi pada Permasalahan (problem-solving focused)

a)      Confrontive coping

b)      Planful problem solving

c)      Seeking social support

Berorintasi pada emosi (emotion focused)

a)      Distancing

b)      Self control

c)      Accepting responsibility

d)     Escape avoidance

e)      Positive reappraisal

f)       Seeking social support

 

 Indikator

Terdapat delapan indikator yang akan diukur. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut (dalam Auerbach dan Grambling, 1998).

 

Berorientasi pada Permasalahan (problem-solving focused)

d)     Confrontive coping

Merupakan usaha yang bersifat agresif dalam mengubah situasi, termasuk dengan cara mengambil resiko. Individu melakukannya dengan cara bertahan pada apa yang diinginkan.

e)      Planful problem solving

Memusatkan usaha pada masalah dengan hati-hati untuk mengatasi situasi yang menekan. Langkah lainnya dalam strategi ini adalah membuat perencanaan dari hal-hal yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan menjalankan rencana tersebut.

f)       Seeking social support

Usaha-usaha mencari nasihat, informasi, atau dukungan emosional pada lingkungan sosial di sekelilingnya. Caranya meminta pendapat orang lain terkait pemecahan masalah yang dihadapinya.

Berorintasi pada emosi (emotion focused)

g)      Distancing

Usaha yang bertujuan untuk menjaga jarak antara diri sendiri dengan masalah yang dihadapi dan bertingkah laku mengabaikan masalah tersebut. Individu dengan kondisi seperti ini merusaha menolak atau larut dalam masalah, dan menganggapnya seakan tidak pernah terjadi sesuatu.

h)      Self control

Usaha yang dilakukan oleh individu untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut dengan cara menyimpannya. Individu akan berusaha menyimpan keadaan atau masalah yang sedang dihadapi agar orang lain tidak tahu

i)        Accepting responsibility

Usaha strategis yang pasif dimana individu mengakui atau menerima dirinya memiliki peran dalam maslaah tersbeut. Individu akan mengkritisi diri sendiri apabila sedang menghadapi masalah dan ia merasa dirinya yang bertanggung jawab.

j)        Escape avoidance

Strategi berupa perilaku menghindar atau melarikan diri dari masalah dan situasi stres dengan cara berkhayal atau berangan-angan juga dengan cara makan, minum, merokok, menggunakan obat-obatan. Individu berharap dnegan strategi tersebut situasi buruk akan segera berlalu.

k)      Positive reappraisal

Usaha-usaha untuk menemukan makna yang positif dari masalah atau situasi menekan yang dihadapi, dan dari situasi tersbeut individu akan berusaha menemukan suatu keyakinan baru yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi.

l)        Seeking social support

Strategi yang dipakai individu untuk mendapatkan simpati dan pengertian orang lain.

 


Daftar Pustaka

Dyk, Patricia A. H. And Jay D. Schvaneveldt. (1987). Coping as a Concept in Family Theory.  Family Science Review.

Lazarus, R., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.

Lazarus, Richad S. (1993). Coping Theori and Reasearch: Past, Present, and Future. Jurnal Psychodiagnostic Medicine 55: 243-247.

Krohne. H. W. (2002) Stress and Coping Theories. Germany: Johannes Gutenberg-Universitat Maitz Germany.

Safaria. Triantoro. (2007). Stres Ditinjau dari Active Coping, Avoidance, dan Begative Coping. Makalah Konferensi Nasional Stress Management dalam Berbagai Setting Kehidupan, Bandung 2-3 Februari 2007.

Ursin, Holger. And Hege R. Eriksen. (2003). The Cognitive Avtivation Theory of Stress. Norway: Departement of Biological and Medical Psychology, University og Bergen.

Walia, M. M. (2005). Hidup Tanpa Stres. Jakarta: Bina Ilmu Populer.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :