PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

K-pop dan Perampasan Budaya

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 21 September 2012
di Buah Pikiran - 1 komentar

"Terus gue harus bilang WOW gitu?"

 

Aku teringat ama kata-kata ini pada akhir-akhir ini. Yups, kalimat yang lagi nge-tren di kalangan anak gaol katanya. "Masalah buat loh!?", "Lo, Gue, end!" dan sederet kata-kata yang katanya selalu menjadi bumbu pembicaraan di masa sekarang ini.

 

Satu hal yang kadang menggangu pikiran, gaya hidup akan memberikan cermin dari peradaban, juga kebudayaan yang ada di sekitarnya. So, bicara tentang budaya, jangan ditanya, Indonesia adalah sarang kebudayaan di dunia ini. Keragamannya jangan disangsikan lagi. 

 

Lebih jauh lagi, budaya selalu menjadi identitas bagi pemiliknya. Satu lagi pertanyaan muncul, jika budaya Indonesia beragam, apakah berarti orang Indonesia akan menjadi multi identitas? sama halnya kayak bunglon dong kalau gitu? gak punya pendirian? dan lain-lain.

 

Buang saja semua pertanyaan-pertanyaan itu. Hal utama yang ingin diungkapkan pada tulisan kali ini adalah justru, (sepertinya) orang Indonesia mulai menyamakan identitas dengan orang lain. Bahkan mulai mengaburkannya.

 

Fenomena yang kerap sering terjadi, begitu silaunya dengan budaya lain sehingga dengan mudahnya mengikuti kebudayaan orang lain. Lebih jauhnya, hal tersebut justru membuat bangga. Taruhlah, sebuah contoh kasus yang sedang booming saat ini, Gangnam style. bermula dari demam K-Pop yang melanda Indonesia, bahkan ke dunia, akhirnya turunan-turunan yang berbau Korea-pun kerap diminati. Dari beberapa teman, terutama yang cewek, sangat ambisius dengan sesuatu yang berbau Korea.

 

"Masalah buat loh?" 

 

Dari fenomena tersebut, berbuntut pada alasan bahwa hal tersebut adalah gaul. Mengikuti perkembangan zaman, dan sederet alasan lain yang dibuat untuk membenarkannya.

 

Tidak salah, itu adalah jalan masing-masing yang dapat diambil tiap orang. Hanya saja, kadang kita tidka berkaca kepada peristiwa-peristiwa sebelumnya.

 

Gambarannya seperti ini:

"Saat orang Indonesia terpokuskan pada suatu kebudayaan luar, yang sangat digilai. 'Mereka' terlalaikan dengan budayanya sendiri. Anggapannya, bahwa budaya luar itu lebih gaul dan lebih mengikuti perkembangan jaman. Sementara budaya sendiri yang kaya dan beragam, dibiarkan begitu saja. Saat ada 'orang lain' yang melihat bahwa budaya kita sepertinya disia-siakan, akhirnya dalam benak 'orang lain' tersebut timbul pemikiran "Ada kebudayaan bagus, dan yang empunya tidak memerhatikannya, daripada mubadzir, mending saya ambil dan lestarikan."

"Saat kuasa hak paten dan sebagainya bicara, orang Indonesia baru tersadarkan bahwa miliknya ada yang mengakui. Sebelumnya yang acuh tak acuhpun, akhirnya tersedot perhatiannya kepada budaya muliknya yang diambil 'orang lain' tersebut."

 

Dan hal tersebut terus menerus berulang, tanpa mau menyadarkan diri berkaca dari pangalaman-pengalaman sebelumbnya. mau dibawa kemana negara kita??

1 Komentar

rini

pada : 15 April 2013


"bingung mau bikin pkm apa niech....."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :