PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Antara Surabaya-Gorontalo

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 10 September 2012
di Hati - 0 komentar

Antara Surabaya-Gorontalo adakah bedanya? Jangan asosiasikan tulisan ini dengan lirik lagu antara Anyer-Panarukan, ataupun lirik lagu anak-anak “naik kereta api tut... tut... tut..., siapa hendak turun ke Bandung-Surabaya.” Tetapi asosiasikanlah tulisan ini untuk sebuah perenungan.

 

Di bylan Mei akhir, tepatnya di tahun 2010. Perlu dicamkan, di sanalah resminya angkatan XI menjadi alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo. Sebuah kebanggaan bukan? Tetapi di satu sisi hal itu menjadi sebuah kekhawatiran di benak para lulusan. Hingga tibullah pertanyaan akan seperti apakah duniaku setelah ini?

 

Ada istilah yang merebak secara illegal, yang konon istilah tersebut tidak masuk ke dalam EYD. “Penjara suci”, jangan mengaku pernah tinggal di sebuah institusi pendidikan berasrama kalau tidak mengenalnya. Sebuah sebutan untuk asrama dengan setumpuk peraturan, layaknya seorang napi masuk bui. Kami, Anda, dan kita semua telah menyepakati tatkala menginjakkan kaki di tanah Cendekia itu.

 

Lantas apa yang kami dapatkan setelah tiga tahun masa penahanan? Keserhanaan dalam kemewahan. Sebuah konsekuensi logis apabila Anda yang mendapatkan beasiswa merasakan fasilitas yang dipunyai institusi tujuan. Jika pun tidak, patut dipertanyakan konsekuensi tersebut. Bila mau memperbandingkan kemewahan fasilitas dengan kampus Unair salah satunya, sungguh masih lebih mewah dan lebih lengkap apa yang Anda dapatkan saat ini. Semua itu didapatkan tanpa keluar biaya. Karena Anda semua mendapatkan beasiswa.

 

Kemudian apalagi yang didapatkan? Beasiswa, kata itu sudah mnejadi skak mat bagi kami, laykanya permainan catur. Kata beasiswa adalah pion yang menjadi pemakan raja dalam ranah sang penerima beasiswa. Tidak bisa berkutik, diam. Menyerah kepada sang penyerang, seperti pecundang yang kalah perang. Konsekuensi selanjutnya kita semua menjadi penurut.

 

Itulah kurang lebih yang saya (dan barangkali) beberapa teman lain rasakan. Kata tersebut merupakan senjata ampuh yang sering (khususnya) beberapa guru lontarkan. Di saat kenakalan atau kemalasan kami mulai timbul. Menjadikannya sebgaai lecutan agar tetap berlari dalam jalur yang diinginkan oleh pemegang kendali.

 

Gerutuan di dalam hati seringkali timbul. “Bukan mau kami mendapatkan beasiswa, tapi ini adalah takdir yang menghantarkanku mendapatkan beasiswa ini.” Tampak sesekali ke-jabbariyahan  mulai timbul untuk mengelak dari tuduhan perkara. Tapi itulah manusia, seringkali berusaha untuk mengelak untuk senantiasa mengemukakan pendapat atau membenarkan pendapatnya.

 

Lalu apalagi? Pendidikan berikut perangkat ilmu pengetahuan. Jangan dilupakan, agama.

 

Setelah keluar dar penjara suci tersebut, aku merasakan sebuah kebenaran. Bayangkanlah perasaan seorang napi yang begitu bergembira menyongsong hari kebebasannya. Setalh bertahun-tahun terbelenggu dalam ikatan aturan yang njelimet. Seperti itulah gambarannya.

 

Dari alinea ini, akan kukabarkan berita dari Surabaya. Kabar seorang napi yang bebas dari penjara suci. Seornag napi yang ingin menyesap segala kelanggaran alam di sekelilingnya. Seornag napi yang melenggang tenang menyusuri setiap tantangan di depannya.   

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :