PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Manusia dalam Kerangkeng

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 10 September 2012
di Buah Pikiran - 0 komentar

Sejuknya udara mengisi setiap inci permukaan bumi. Tidak terlewatkan tanpa satupun bagian permukaan tanah yang terkosongkan oleh udara. Memberikan nuansa kehidupan dalam setiap ruang gerak makhluk hidup. Angin yang bergerak memainkan harmoni gemeresik daun-daun hijau di pohon, beberapa daun tua berjatuhan. Menambah tumpukan sampah organik yang kelak membusuk menjadi lumut.

 

Parodi kehidupan nampak akan terus berlanjut sampai hancurnya kehidupan itu sendiri. Tanpa ada yang bisa memastikan kapan itu semua terjadi. Begitu tegas, memberi sebuah kemutlakan yang tidak bisa digugat keberadaannya. Tapi kelak jika saatnya, dengan serta merta semuanya tidak bisa terelakkan. Bukan berarti pasrah, tapi pada kenyataannya begitu. Banyak sekali ramalan yang menyatakan waktu berakhirnya alam dunia. Pada tahun 2012 ini katanya akan berakhir? Benar ataukah tidak, semuanya masih menjadi tanda tanya yang kelabu. Tapi bisa jadi berakhirnya dunia ini lusa, atau esok. Mungkin malah bisa jadi sepersekian sekon kemudian dari sekarang.

 

Kepercayaan itu hinggap begitu saja pada manusia, satu-satunya makhluk yang mendasarkan segala sesuatunya pada hal “keilmiahan”. Tapi tidak semuanya, masih ada bagian manusia lain yang masih percaya kebada kebatinan. Sedikit ironis, tapi nyata. Begitu kukuhnya manusia berpegang kepada sesuatu yang ilmiah. Tetapi masih ada saja sebuah ramlaan yang sangat jauh dari yang namanya “ilmiah” dipercaya.

 

Bukannya itu salah, bisa jadi benar. Tetapi pembenarannya bukan sebuah kemutlakan. Pasalanya status manusia sebagai makhluk yang diciptakan tidak mempunyai wewenang untuk men-judge sesama ciptaan untuk segera enyah dari peredaran. Tidak ada kuasa sama sekali. Titik.

 

Kelanjutannya, manusia hanyalah makhluk yang pasrah kepada nasib. Apapun yang terjadi itulah untuknya. Tetapi sayang, tidak semuanya ya. Ada kehendak-kehendak tertentu yang menjadi batas-batas kewajaran manusia. Saat kepasrahan ditanamkan dalam jati diri manusia seutuhnya, barangkali kematianlah yang akan dihadapi. Mampus. Tdaik akan ada lagi kehidupan di muka bumi ini, yang diklaim sebagai satu-satunya kehidupan di Galaksi Bimas Sakti. Benarkah? Lalu bagaiman dengan lien? Sang makhluk luar angkasa yang pada kedatangannya ke bumi kerpa kali memberikan kejutan berupa keanehan. Keanehan yang dalam indera manusia hal tersebut tidak wajar?

 

Banyak penelitian yang berusaha menusia lakukan untuk menyelubungi segala kebohongan. Kebohongan yang ada? Ataukah sebuah realita yang memberikan lahan baru untuk para ilmuan untuk dibuktikan keabsahannya dalam kacamata ilmiah? Ataukah hanya akal-akalan orang tertentu untuk mencari sensasi di tengah hiruk-pikuknya kehidupan yang sangat membosankan? Biarkan waktu dan usaha yang akan menjawabnya.

 

Biarlah kehidupan ini terus mengalir. Jika ada sebuah kebohongan merebak yang menyebabkan lahirnya kekacauan. Maka selanjutnya, alam ini pun akan binasa, laksana jatuhnya daun yang semakin menua? Percayakah bahwa ada keadilan sejati setelah kehidupan ini?

 

24 Oktober 2010

6.18 pm

 

@ kosan when me alone!

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :