PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Petualangan IMSS: 15 Juli 2012

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 29 July 2012
di Catatan Pagi - 0 komentar

Malam larut telah mengganti harinya menjadi tanggal 15 Juli 2012. Hari Ahad yang luar biasa. Tidak disangka, air shubuh di kamar mandi begitu terasa dingin menusuk tulang. Karena saking tidak kuatnya, dan mungkin masih beradaptasi dengan hawa dingin, beberapa diantaranya memutuskan untuk menunda acara mandi hingga sore hari. Tindakan bijak, dari pada berakibat sakit terserang flu, lebih baik menyisakan sedikit sisa-sisa harumnya badan di kala malam hari. Ternyata bisa diakali dengan menyemprotkan parfum lebih banyak dari porsi biasanya ke tubuh, tuntas lah sudah masalah.

                        Ini adalah hari yang ditunggu, dimana perhelatan akbar dari petualangan ini akan digelar. Serentak, masa dimobilisasi ke Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), tempat pembukaan akan digelar. Sekitar seribu tujuh ratus masa dari berbagai penjuru Indonesia tumpah ruah di sana.

                        Pagi itu dingin yang dibawa oleh hawa Bandung tidak begitu terasa. Karena cukup banyak energi untuk disalurkan dalam bentuk kegiatan lain. Satu demi satu orang-orang yang tidak dikenal itu mulai saling berjabat tangan, bertukar nama, asal, alamat, dan hal-hal lain yang diangap perlu untuk diketahui. Bertukar pula masalah antara yang dihadapi di kampusnya dengan kampus lain.berharap mendapatkan pencerahan.

                        Tidak sedikit pula sinar blitz dari berbagai macam kamera menerangi pelataran Gedung Sabuga. Pose-pose narsis maupun jaim (bahkan katro pun) turut menyemarakkan minggu pagi ini. Maklum, beberapa orang berpikir, kapan lagi bisa berfoto di depan Gedung yang megah milik Institut ternama di negeri ini, jika bukan dalam kesempatan ini?. Benar-benar hari yang cerah, matahari pun bersahabat dengan menurunkan intensitas sinarnya yang dia kirimkan ke bumi.

                        Tidak lama kemudian, setelah perut terisi dengan nasi dan minum, masa mulai dimobilisasi memasuki gedung. Lihat, betapa luar biasanya panitia yang meng-handle acara ini!

 

Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), di Dalamnya

                        Amazing!

                        Itulah yang terlintas ketika tubuh ini memasuki ruangan yang gelap. Saat memasuki ruangan, persis terseguh di depan mata pemampang stage dari samping kiri. Satu layar utama dan dua layar pembantu terpampang di muka panggung, dengan kualitas audio yang membahana, jelas tanpa ada gema. Setting ruangan yang telah diatur sedemikian rupa. Rupanya di dinding gedung tersebut telah dilapisi karpet.

                        Belum lagi lampu sorot utama yang diarahkan untuk menekankan titik fokus orang-orang penting yang akan berlagak di atas panggung. Ditambah lagi lampu sorot warna-warni sebagai dekorasi penyemarak perhelatan tersebut. Sebuah suguhan untuk pertunjukan yang luar biasa.

                        Kursi para audience diatur berundak dari atas ke bawah, bayangkanlah tempat duduk yang ada di Koloseum. Kurang lebih seperti itu, hanya saja berisikan kursi lipat warna-warni, dengan lampu-lampu merah menyala di sepanjang tangga untuk mendaki tempat duduk tertinggi. Ditambah beberapa ribu peserta yang hadir saat itu, sungguh mirip sebuah konser. Tampak beberapa ratus kursi yang disediakn panitia nampaknya masih kosong.   

            Let’s start the party!

                        Pembukaan acara berlangsung khidmat dan meriah. Pada awalanya, takbir-takbir saling berlomba bersahutan. Menandakan semangat yang luar biasa membuncah. Seorang master of ceremony dengan setelan jas yang rapi maju untuk memandu acara tersebut. Menghangatkan suasana agar terasa lebih meriah lagi.

                        Acara dibuka dengan pembacaan Alquran dan artinya, oleh tiga orang yang berbeda usia. Seorang bapak, dan dua orang lagi seumuran anak-anak. Kostum yang mereka kenakan bernuansa ala kostum Cina. Entah apa maksud dibalik pemilihan kostum tersebut, mungkin disesuaikan dengan tema?. Acara selanjutnya merupakan khas seremonial. Sambutan-sambutan, sesuatu yang menjenuhkan. Kemudian dibukalah acara tersebut dengan resmi dengan penabuhan gong yang menandakan acara tersebut telah benar-benar resmi dibuka.

                        Kualitas audio Sabuga diuji keprimaannya dengan adanya penampilan musik khas sunda. Tabuhan-tabuhan gamelan dipadukan dengan alat musik modern dan sesekali diselingi nyanyian yang tidak terlalu jelas di telinga cukup membangkitkan gairah semangat kembali. Adapula aksi teatrikal yang luar biasa indah, menunjukkan sebuah kualitas penghayatan yang tinggi terhadap sebuah peran. Membangkitkan bulu kuduk saat menyaksikannya. Itulah seni!

                        Sebagai penutup, Shoutul Harokah memberikan bara semangatnya lewat lantunan lagu-lagu menghentak telinga, dan hanya sebagian orang lagi mungkin menghentak jiwa. Pada kali ini masa tidak dapat begitu dikendalikan. Segerumbulan orang yang haus akan jingkrak-jingkrakkan sebagai penyalur semangat maju tepat di depan panggung dengan membawa berbagai atribut pengabadi momen. Tidak terhitung banyaknya cahaya blitz kamera berkedip-kedip di sana. Kekuatan musik yang menghipnotis, mungkin hal tersebut cukup menggambarkan bahwa mereka yang disebut dan menyebut dirinya para aktivis dakwah adalah juga manusia, penyuka seni dan keindahan. Euforia memang selalu melanda siapa saja, manusiawi.

                        Siang pun tidak kalah serunya.

                        Selepas shalat dzuhur dan makan serta minum siang, acara berlanjut kembali. Masih berlokasi di dalam Gedung Sabuga. Kali ini menghadirkan Tashiru sebagai penyemangat siang yang mengundang kantuk. Dua buah lagu mengalir lewat sound system yang teruji kualitas suaranya.

                                Tidak tanggung-tanggung, kali ini Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Dahlan Iskan memberikan pemikiran-pemikirannya kepada para mahasiswa. Beberapa mungkin menganggap momen ini sangat luar biasa. Dan acarapun berakhir hingga sore hari. Isola Dormitory pun bersiap untuk menampung badan-badan yang kelelahan berpeluh semangat untuk dipeluk dalam mimpi-mimpi ibu kota Bandung. Good night!

  

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :