PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Petualangan IMSS: 13 Juli 2012

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 26 July 2012
di Catatan Pagi - 0 komentar

Petualangan ini dimulai saat mata mulai dibuka, kala subuh tiba segera membuka hari dengan suatu kegiatan yang tidak biasa dilakukan pada hari-hari biasanya. Bangun pagi dilanjutkan dengan mandi pagi (bukan mandi wajib). Ini sengaja dilakukan agar perjalanan petualangan yang luar biasa ini dapat dilakukan dengan lancar.

                        Setelah shalat subuh usai ditunaikan lengkap dengan doa-doa setelah shalat, persiapan pakaian dan perlengkapan lainnya untuk bepergian pun dilakukan. Packing yang dilakukan di kala dini hari rupanya membuat mata terasa berat untuk terbuka seluruhnya. Tetapi itu adalah suatu risiko yang harus ditanggung akibat tidak teraturnya manajemen waktu.

                        Dinginnya udara pagi di kota Surabaya tidak terlalu mencekam bagi kulit tubuh, begitu saja ditembus dengan menggunakan sepeda motor. Duduk di atas sepeda motor yang menyetir adalah teman saya yang telah rela untuk menggunakan paginya untuk mengantarkanku ke Stasiun Kereta Api Gubeng. Tampak di tempat tunggu telah berkumpul beberapa teman dari satu universitas yang sama, dan beberapa kumpulan dari universitas tetangga dan seberang pulau yang hendak bersama-sama menjajakan harinya untuk menerima tantangan petualangan tersebut.

 

Pukul 06.00 Waktu Indonesia bagian Stasiun Gubeng.   

                        Kereta Pasundan mulai memberikan geliatnya, menunjukkan bahwa betapa lincahnya kaki-kaki besinya melangkah di atas rel-rel panjang yang dingin. Nyata, sebuah insiden kecil terjadi, salah seorang rombongan dari ‘kontingen’ Janur UKMKI diberitakan oleh koordinator lapangan tertinggal kereta. Usik terkena usik, motor yang ditumpanginya menuju Stasiun Gubeng mogok di tengah jalan.

                        Malang tidak dapat dihindari memang, bagi orang tersebut. Tetapi untunglah ‘untung’ juga menyertainya. Sebutlah orang yang tertinggal tersebut berinisial H, dia beruntung, rupanya kereta Bisnis menuju tujuan yang sama dengan rombongan masih berbaik hati memberikan tempat untuknya. Jadilah malangnya telah menjadikan dia lebih ‘istimewa’. Karena dia sendiri dari ‘kontingen’ Janur UKMKI yang menggunakan kelas bisnis, sedangkan rombongan menggunakan kelas ‘murah’. Untung lain yang ia dapatkan, ia lebih cepat sampai di tempat tujuan di banding rombongan. Benar sudah janji Allah, di balik kesulitan pastilah ada kemudahan.

 

Cerita ini akan dilanjut di dalam gerbong kereta.

            Di dalam kereta, kami merajut dan menemukan cinta

            Di dalam kereta kami merajut dan memantapkan asa

            Dan di dalam kereta kami membangun cita-cita.

 

                        Sebuah benak muncul, saat Pasundan dengan pongahnya menembus perkotaan, persawahan, dan perbukitan. Nyata sekali perbedaan yang terjadi, sangat terasa betapa indahnya alam Indonesia tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kendati terhalang tirai kaca kereta, namun mata ini tidak dapat dibohongi untuk sekadar melihat pemandangan yang ada di depan mata. Hidung pun tidak dapat dikibuli, oleh sebab ia langsung merasakan bau tanah-tanah alam Indonesia yang dilewati, lewat lantunan angin yang menyelinap memalui lubang ventilasi. Bahkan kamera pun dengan jujurnya mengatakan lewat gambar yang disimpannya, “aku tidak bisa mengabadikannya dengan sempurna!”

                        Jengkal demi jengkal daerah yang kami dan Pasundan lewati, telah membentuk sebuah simpul yang membentuk suatu rajutan tentang rasa keindahan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Hingga akhirnya, mungkin lama kelamaan simpul tersebut akan menjadi suatu rajutan keindahan yang akan menghantarkan kepada cinta-Nya, cinta pada Sang Pencipta dan Pencinta Keindahan.    

                        Dari cinta pun, rasanya hati ini kian tersulut untuk berlanjut dalam merajut asa. Asa yang tersimpan terhadap negeri ini, terhadap agama ini, dan terhadap kehidupan ini. Bersama-sama dalam relung hati yang paling dalam asa itu kian dimantapkan. Melihat dan menyaksikan realita yang ada, yang hanya bisa di-pelongo-i dengan menggumamkan lantunan tasbih kekaguman, subhanallah, subhanallah.

                        Pada akhirnya, asa tersebut telah menjelma untuk membangun cita-cita. Cita-cita akan makmurnya negeri ini, cita-cita akan madaninya masyarakat ini, dan cita-cita akan kembali jayanya agama ini. Kalimat-kalimat takbir pun bergemuruh dalam hati. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

                                Dan Pasundan pun terus melaju di tengah gelap dan dinginnya malam. Pukul 12.00 Waktu Indonesia Sekitar Pasundan menjejak.

 


IMSS kepanjangan dari International Muslim Students Summit, yang telah diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung, tanggal 15-18 Juli 2012 bertajug "Youth, Leadership, Better World." Merupakan suatu acara yang diselengarakan oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) seluruh Indonesia. Di hadiri juga oleh lebih dari 1700 orang perwakilan kampus LDK se-Indonesia, juga perwakilan dari 10 negara luar. 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :