PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Dari Jalan Raya Stasiun Gubeng

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 01 July 2012
di Catatan Pagi - 0 komentar

 

Hari ini, setelah shalat shubuh ditunaikan, meski dengan mata yang masih mengantuk saya akhirnya berhasil membawa tubuh ini keluar dari rumah tercinta. Bersama seorang teman, roda-roda Jupiter MX menggelinding menyusuri jalan yang masih lengang. Gelap belumlah sirna, lampu-lampu masih menyala dari setiap sudut rumah, dan lampu jalanan yang kami lewati.  

 

Berkali-kali saya merapikan jaket yang aku kenakan. Sambil menikmati lengangnya pagi, saya dengan teman saya asik mengobrol sepanjang perjalanan. Hal sekilas terlintas di benak saya adalah Surabaya yang panas, ternyata di pagi hari tetap memancarkan dinginnya juga, satu hal yang tidak ku sangka sebelumnya. Pikiran saya mulai sedikit 'bangun' untuk bepikir. Segala sesuatu, apapun itu pasti, akan tetap memiliki sisi alamiahnya. Itulah sunnatullah

 

Jalan semakin menjauhi di tempuh, pagi itu saya berencana memesan tiket kereta ke Bandung untuk suatu acara. Biasalah, pesan jauh-jauh hari sebelum kehabisan. Melihat sistem pemesanan yang berbeda dari sebelumnya, memang lebih tertata. Hal ini memberikan sinyalemen positif dari pandangan saya terhadap pihak pengelola kerata api. Ada pembenahan menuju ke arah yang lebih baik. Tempat yang kami tuju adalah Stasiun Kereta Api Gubeng, Surabaya. 

 

"Segala sesuatu, apapun itu pasti, akan tetap memiliki sisi alamiahnya. Itulah sunnatullah." 

 

Belum sampai di tempat tujuan, mata saya tertuju kepada sosok-sosok yang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya perempuan, dengan pakaian 'minim' yang akan menggoda nafsu syahwat para lelaki yang masih 'normal'. Saya bergumam: itulah realitas sosial yang harus ditanggung oleh bangsa ini. Suatu permasalahan yang jika diberantas masih tetap menimbulkan permasalahan baru. (Stop!! saya tidak ingin membahas lebih lanjut masalah ini).

 

 Saya dan teman saya pun sampai. (Saya tidak yakin, apakah kejadian selanjutnya begitu menarik bagi Anda. Bagiku iya, tapi teruskanlah membaca!).

 

 Ricuhnya pagi hari, saya melihat di antara kursi-kursi yang tersedia, beberapa terlelap dalam mimpi. Beberapa kelompok lainnya mengobrol dalam berkelompok-kelompok. Beberapa satpam berkeliaran untuk menjaga keamanan. Beberapa petugas karcis mulai membuka loketnya, khusus untuk penjaga karcis perempuan, dengan make-up mereka yang masih segar, dengan senyuman yang masih dapat merekah (senyuman yang akan pudar saat waktu semakin berlalu ke sore). Dan masih banyak lagi beberapa-beberapa yang lainnya.

 

 Hal yang paling menarik bagiku adalah seorang ibu dengan anak balitanya. Dalam gendongan kain selendang batik, ia terlelap di pangkuan ibunya. Sesekali dia bergerak untuk membuat lebih nyaman posisi tidurnya, kendati memang tidur dalam posisi tersebut tidak nyaman. Di sekitarnya berserakan barang-barang dalam jumlah banyak. Si Ibu hanya diam menunggu. Tidak saya lihat si Bapak mendampinginya. 

 

 

 Pikiranku turut berkembang dengan sosok yang telah melahirkan saya. Dalam pikiranku:

 

(^&%^&(*&(*&)^&%$%##!@##$%$^%&*&(*)(_*)}+(+MU*JYG^&%&^&)____U()&~*(^&%^%@^*&)(**@)*)_(@_@*)*&@*^@&%!^!*!(*&(!&)(!*)*!)(!)*)~&(&~(&)&!)*!&^&!%^&$%#$.........................................................................~).

 

(Maaf, jika huruf-huruf tersebut mengganggu Anda, itulah gambaran pikiran saya tentang ibu. Sulit digambarkan. Sebaiknya Anda sendiri membuat sebuah pikiran tentang sosok ibu Anda).

 

 Setelah maksud keberadaan di stasiun tersebut tercapai. Aku dan temankupun pulang.

 


*Mari merenungi sosok ibu

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :