PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Seorang Kakek, Nenek dan Kursi Roda, dan Puisi Sapardi

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 29 June 2012
di Catatan Pagi - 1 komentar

-Aku Ingin-

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

 

Sapardi Djoko Damono~

 

                        Catatan pagi ini, terinspirasi dari sebuah kenyataan yang saya saksikan dengan mata kepala sedniri. Puisi tersebut yang sangat indah, cantik, dan sederhana. Kedalamannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sejak pertama kali membaca, sungguh rasanya hati ini jatuh hati pada puisi tersebut, sebatas pengungkapan perasaan saya yang tidak terungkapkan pada kenyataan yang menginspirasi saya tadi.

                        Jika Anda adalah sepasang suami istri, khususnya pihak suami memiliki karakter yang kurang bisa dikatakan ‘romantis’ oleh istrinya. Cobalah tips berikut. Saat Anda pulang malam dengan kelelahan setelah bekerja, dan saat Anda makan malam di rumah sementara sang istri telah tertidur karena kelelahan mengurusi aktivitas dan tanggung jawabnya di rumah. Belikan ia sebuket mawar merah, dan cantumkanlah puisi ini bersama buket bunga itu.

                        Taruhlah di tempat sang istri bisa menjangkaunya. Sungguh suatu keajaiban, saat Anda tertidur pulas di atas sofa karena kelelahan bekerja. Tengah malam sang istri terbangun dan menemukan sebuket bunga dan puisi yang penuh cinta, dan melihat Anda tertidur lelap di atas sofa. Maka dari sudut remang ruangan yang padam, bibirnya akan tersentum menyiratkan kebahagiaan. Yakinlah, hatinya pun akan lebih lapang untuk terus mencintai Anda setulus jiwa. Mari menikmati dan meresapi arti sebuah cinta dan kesetiaan.

 

***

 

                        Kita lanjukan dengan memulainya lagi dari sebuh film. Barangkali pembaca telah menonton film animasi yang berjudul “UP”. Di sana dikisahkan sepasang suami istri yang berteman sejak kecil, Carl dan Ellie. Mereka hidup dengan bahagia, meski tak seorang pun dikaruniai anak. Sampai akhirnya Ellie wafat. Sebelum wafat, saat masih hidup Ellie meminta Carl untuk membawanya rumah tempat bertemunya mereka hingga mereka tempati, ke dekat air terjun Surga yang diimpikan. Cukup sampai di sini.

                       Saya hanya ingin memberikan perbandingan kisah kesetiaan sepasang suami tersebut hingga ajal memisahkan mereka, dengan apa yang sering saya lihat.

                       Setiap saya hendak pergi ke kampus yang melewati jalan ramai, sering saya melihat seorang kakek mendorong kursi roda yang diduduki seorang nenek. Sepasang suami istri yang saya taksir berusia 70-an. Sungguh pemandangan yang laur biasa yang baru saya lihat dengan mata kepala sendiri. Pagi hari itu semua terjadi, dalam satu minggu kadang sampai menjumpai dua kali.

                       Sang kakek dengan sabar dan setia mendorong kursi roda sang nenek, tanpa keluh. Saya kira, mereka berdua berjalan berkeliling. Seringkali saat saya melewati mereka, sang kakek tengah berhenti di depan rumah, mungkin sekadar beristirahat. Sang nenek, berdasarkan pengamatan saya, mungkin mengalami kelumpuhan. Karena saya hanya melihat sang nenek terdiam di atas kursi rodanya. Tanpa banyak cakap.

                       Sungguh, suatu kesetiaan yang luar biasa. Tulisan ini tidak mampu mengungkapkan rasa kagum saya pada kesetiaan sang kakek dan nenek. Sebuah anugerah cinta yang Maha Kuasa telah didapatkan oleh keduanya yang dibalut dalam indahnya pernikahan, langgeng, hingga masa tua kian menjalari hari-hari merekan. Energi cinta dan kesetiaan untuk saling percaya satu sama lain. Untuk sama-sama menjalani rumah tangga dalam segala medan dan segala usia.      

                       Akankah Anda bisa menggapai kesetiaan dan cinta seperti mereka?

#marilah merenung...


Jumat, 29 Juni 2012

1 Komentar

ani afrah S.

pada : 02 October 2012


"mantap,, diksi yang dipilih serta imaji yang digunakan luar biasa.."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :