PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Sebungkus Sarapan Soto Lamongan

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 27 June 2012
di Catatan Pagi - 0 komentar

                       Musim UAS, buat kebanyakan mahasiswa mungkin lagi musim-musimnya berkutat dengan diktat kuliah atau tugas-tugas kuliah yang harus dikumpulkan. Dan saya termasuk ke dalam orang tersebut. Sibuk menghabiskan hari-hari dengan sks (sistem kebut semalam) guna bisa menjawab soal-soal yang disajikan dosen. Kewajaran yang terjadi pada musim UAS, tingkat stress akan meningkat.

                       hal wajar, setiap hari pun sebenarnya orang akan dihadapkan pada yang namanya stress. Cuma saja tingkat streesnya saja yang berbeda setiap harinya. Ini adalah tantangan untuk bisa memanajemen stres, sehingga adanya stres tersebut tidak menghambat dinamisnya kehidupan.

                       Pagi itu, dimulai dengan saya terbangun agak kesiangan untuk ukuran sholat subuh. Sebabnya semalam bergadang berkutat dengan diktat. Mutlak kesalahan ada di tangan saya, konsekuensi yang diambil karena ikut sks tadi. Dalam menghadapi tingkat stres yang melonjak dalam seminggu ini, pelampiasan yang saya lakukan biasanya adalah dengan makan. Nafsu makan saya akan meningkat, itu sebabnya mengapa pagi-pagi sekali perut saya sudah keruyukan minta diisi. Beda dari biasanya.

                       Parahnya, uang di dompet tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan makan tadi. Terpaksa (keluar dari kebiasaan) harus ngontel ke atm yang diperlukan waktu tempuh kurang lebih lima-sepuluh menit pulang pergi dengan mengendarai sepeda ontel. Banyak hal yang menarik di pagi hari. Untuk ukuran Surabaya, setiap harinya kepadatan lalu lintas merupakan hal biasa. Tapi ada hal yang tidak biasa yang terjadi setiap pagi dan setiap harinya. Suasana lengang di jalanan.

                       Di sinilah mungkin letak dari kenikmatan di pagi hari, lengangnya jalan raya dari lalu lalang kendaraan bermotor, yang berakibat pada jumlah polusi yang ditimbulkan relatif masih rendah. Satu hal yang patut di syukuri.

                       Setelah kembali dari atm, niatku semula untuk membeli makanan segera di penuhi. Saya melihat jajaran pedagang makanan di sepanjang jalan. Pas pergi ke atm, saya melewati jalan tersebut, belum terlalu banyak yang menjajakan dagangan, tetapi sekembalinya dari sana sudah lumayan ramai didatangi oleh orang. 

                       Pilihan saya tertuju pada soto lamongan untuk mengisi perut saya, dan akhirnya saya berhenti di salah satu gerobak pedagang soto lamongan. Saya lihat masih penuh dagangannya, maklum masih pagi hari. Saya memesan satu bungkus soto untuk dibawa pulang. 

                       Pedagangnya adalah seorang bapak usianya diperkirakan umur 40-an. Setidaknya saya melihat, Bapak tersebut adalah orang yang simpel, tidak neko-neko, dan mungkin 'hemat' bicara. Saat pesanan telah dibungkuskan, saya mengeluarkan selembar uang 50 ribu untuk membayarnya. Reaksi si Bapak, "belum ada kembaliannya." tegasnya.

Saya selaku pembeli kebingungan , sedangkan saya tidak membawa uang pecahan sama sekali. Saya tanyakan ke si Bapak bagaimana solusinya, dia hanya diam saja dengan tampak acuh tak acuh. Saya serba salah dengan sikap sang penjual yang seperti itu. Akhirnya saya meninggalkan gerobak tadi untuk memecah uang lima puluhan tadi. Saya putuskan untuk membeli telor asin tak jauh dari tempat si Bapak berjualan.

                       Saat bertransaksi, saya disapa dengan hangat oleh penjual telor asin tadi. Dan sayapun merasa nyaman membeli barang darinya. Setelah mendapat kembalian, sayapun bergegas menemui penjual soto tadi dan membayarnya. Tanpa omong-omongan lagi dari si Bapak, akhirnya sayapun meninggalkan penjual tersebut. Tidak ada ucapan terima kasih atau basa-basi sekalipun, bener-bener hemat ngomong!

                       Di sepanjang jalan pulang saya berpikir, ah.. mungkin pembeli memang bukanlah raja! budaya keramahtamahan dalam transaksi jual beli seolah telah pudar. Tetapi saya baru menemukannya pada penjual soto tadi pagi itu.

 


*Bahan Renungan

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :