PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Mbah, Potret Handal Wanita Urban

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 22 April 2012
di Pengalaman Hidup - 0 komentar

Perjuangan untuk menggapai sebuah tujuan mungkin tidak akan pernah berakhir, begitupun dengan tujuan hidup yang serta merta timbul dari keinginan alamiah manusia. Manusia yang begitu haus dengan cita-cita dan harapan yang mentuntut untuk dijadikan menjadi sebuah kenyataan, keinginan yang selalu berkobar dalam setiap detak nadi yang menjadi pertanda adanya irama kehidupan yang mengalir, dan segala dilema dinamika kehidupan yang senantiasa menuntut manusia untuk berusaha memunculkan eksistensinya sebagai ‘manusia’ itu sendiri. Adakalanya tidak jarang dalam kehidupan ini, beragam keputusan diambil guna memenuhi itu semua. Tidak pelak, suatu kepentingan akan meruntuhkan nurani kemanusiaan yang dimiliki suatu individu, bahkan suatu koloni yang terdiri dari kumpulan individu yang memiliki kesamaan kepentingan.   

Meminjam sebuah istilah singkatan, dalam sebuah gambar yang sempat penulis unduh di http://semanggiku2me.wordpress.com “semanggi”, semangat tinggi. Setidaknya itulah yang akan menjadi penggambar semangat bagi seorang ibu ‘sepuh’ yang telah mencicipi berjuta rasa berbeda di dalam kehidupan ini. Sebutlah ibu tua tersebut dengan nama Mbah Sutrisno.  

Pengalaman beliau memberikan secercah gambaran tentang perjuangan hidup seorang masyarakat urban. Sebagai masyarakat yang terlahir di pedesaan, tepatnya di daerah Nganjuk dengan latar dan motif ekonomi beliau memutuskan untuk hijrah ke kota Surabaya. Beliau datang untuk pertama kalinya bersama sang Pak De’ yang berprofesi sebagai tentara, tidak lama setelah itu Mbah remaja bekerja di sebuah keluarga China, penjadi pembantu rumah tangga.  

Usaha berdagangnya mulai digeluti setelah pernikahan dari hasil perjodohan dengan sang suami, membuahkan hasil berupa sebuah rumah mungil yang sampai saat ini ditempatinya. Bermula dari berjualan kacang rebus, bahan masakan, masakan siap saji, hingga terakhir makanan berat beliau jalani. Tak ayal, usaha kecil-kecilan yang telah beliau geluti membuat beliau bisa bertahan hidup beserta ketiga anaknya di Surabaya ini.  

Kendati pun usia mulai menunjukkan angka yang dikategorikan tua, namun semangatnya untuk terus berusaha tidak pudar. Mahasiswa yang kuliah di Unair kampus B dan yang bertempat di sepanjang Jalan Dharmawangsa sebagian besar telah mengenal beliau. Beliau adalah seorang  nenek, janda, sekaligus pemilik warung sederhana yang terletak di jalan Gubeng Airlangga V, Surabaya. Mahasiswa mengenal warung beliau karena dikenal murah, enak, dan berkualitas. Untuk seporsi nasi dan lauk pauk lengkap, dihargai sekitar tujuh ribu rupiah saja, itupun sudah termasuk segelas teh, atau minuman serbuk seperti marimas dll. Selain itu, keramah-tamahan, kesabaran, serata senyum dan sapaan hangat selalu diterima oleh para pelanggannya yang sebagian besar adalah mahasiswa, membuat beliau diterima dengan baik. 

Dalam mengalami pekerjaannya ini Mbah memiliki kebebasan dalam hidupnya, kebebasan fisik, dimana beliau tetap bekerja mengurus warungnya, memasak, menemani cucu-cucunya, dan memanajemen bengkel milik menantunya meski usia beliau menginjak delapan puluh tahun lebih. Saat ditanya apakah beliau tidak capai dengan berbagai aktifitas tersebut beliau menjawab (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia): “Kalau capai memang iya mas, tapi saya tidak mau menganggur meski sudah tua, lebih baik saya bekerja, untuk membiayai diri saya sendiri dan keluarga serta mengisi kesehariannya dengan bekerja”. Penulis salut dengan prinsip hidup beliau saat mendengarnya, hal tersebut merupakan implikasi dari konsep kebebasan psikis di kehidupan nyata dimana beliau mampu untuk menentukan sendiri apa yang beliau pikirkan dan kehendaki. 

Menurut Rousseau manusia hidup dengan lebih harmonis dan bahagia jika dibiarkan saja (hidup dengan kemauannya sendiri). Dalam konteks ini, di masa-masa tuanya Mbah menjalani kehidupannya sesuai dengan kehendaknya. Seperti yang dikemukakan Mbah, kendatipun anak-anaknya melarang untuk berjualan, tetapi beliau tidak mengundahkannya, dengan alasan ketika melakukan pekerjaan tersebut beliau merasa bahagia karena di umurnya yang sudah ‘sepuh’ masih bisa berguna bagi orang lain. 

Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosial ini (homo homini socius) dan makhluk yang selalu ingin memenuhi  kebutuhan ekonomisnya (homo economicus). Mbah mendedikasikan hidupnya untuk bekerja, memiliki pendapatan untuk kebutuhannya sehari-hari, namun Mbah tidak semata-mata hanya mencari keuntungan saja dari hasil warung makannya, Mbah juga memiliki maksud lain, yaitu menyediakan makanan yang relatif hemat dan sehat bagi mahasiswa yang notabane anak perantauan (termasuk membantu kebutuhan salah satu putrinya yang ditinggal suaminya). Mbah merasa senang dapat melaksanakannya, beliau merasa berguna dan menjadi salah satu orang yang berandil dalam pemenuhan kebutuhan orang lain terutama mahasiswa.

Barangkali motif itulah yang mendasari Mbah rela meninggalkan kampung halamannya. Motif untuk mencari pekerjaan yang ingin memenuhi kebutuhan ekonominya. Hingga dari konsep manusia sebagai homo economicus secara tidak sadar akan mengarahkan kepada konsep homo socius, karena pada dasarnya, dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, mau tidak mau suatu individu akan dituntut untuk  berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kerena ekonomi ini pulalah yang mendasari alasan kebanyakan orang untuk melakukan urbanisasi (Alan Gilbert & Josef Gugler, 1996).   

Itulah sekelumit perjalanan hidup seorang wanita urban yang rela meninggalkan kampung halamannya demi pengharapan dan peningkatkan kualitas hidupnya. Tidak melulu keadaan kota menjadikan seorang wanita lemah untuk menghadapainya, terlebih dengan usia yang dianggap ‘sepuh’, akan tetapi segala semangat dan perjuangannya menjadikan cerminan bahwa mereka mampu untuk bertahan layaknya karang di tengah deburan ombak. 

*Tulisan ini merupakan tugas Mata Kuliah Filsafat Manusia

 

Sumber:

Bakker, Anton. (2000). Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius. 

Giddens, Anthony. (1985). Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Depok: Universitas Indonesia Press.

Gilbert, Alan & Josef Gugler. (1996). Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Gulő, Postinus. (2009). Kegiatan Ekonomi Harus Mengarah Pada Usaha Memanusiawikan Manusia. Diakses pada tanggal 25 April 2011 dari http://postinus.wordpress.com

Novak, Michael. (1997). First Things: Economics as Humanism. Diakses pada tanggal 25 April 2011 dari http://www.leaderu.com/ftissues/ft9710/opinion/novak.html

Anonim. (2010). Masalah Kemiskinan Di Masyarakat Urban (Perspektif Disorganisasi Sosial). Diakses pada tanggal 25 April 2011 dari http://kessos07.blogspot.com/feeds/posts/default.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :