PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Penalaran Moral dalam Perspektif Kohlberg

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 16 March 2012
di Nyangkut ke Psikologi - 4 komentar

1. Isi Teori

Perkembangan moral melibatkan perbedaan antara apa yang benar dan yang salah, apa yang penting bagi orang, dan apa yang harus orang lakukan dalam berinteraksi dengan orang lain. Tahapan perkembangan moral berkaitan erat dengan tahapan perkembangan individu itu sendiri. Piaget dan Kohlberg berpandangan bahwa perkembangan moral berkolerasi dengan perkembangan kecerdasan individu. Sehingga, ketika kecerdasan individu telah mencapai kematangan, maka kecerdasan moral pun selayaknya dapat mencapai kematangan juga.

Secara umum, perkembangan moral mencakup empat area, yaitu pemikiran, kebiasaan, perasaan, dan kepribadian. Dalam pengukuran ini, dimensi yang akan dititiktekankan pada area perkembangan pemikiran moral. Sehingga poin yang disoroti adalah bagaimana seseorang berpikir tentang standar benar dan salah.

Tokoh yang mengemukakan teori tentang moral yaitu Kohlberg (1958, 1976, 1986), ia telah mencetuskan teori utama tentang bagaimana seseorang berpikir tentang benar atau salah. Kunci utama dalam memahami konsep perkembangan moral adalah internalisasi, yang mana perubahan perkembangan perilaku dipengaruhi oleh kontrol eksternal dan kemudian dipengaruhi pula oleh prinsip dan standar internal.

Kohlberg mencetuskan hipotesis tahap perkembangan moralnya menjadi tiga level, yang masing-masingnya terdiri dari dua tingkatan.

1. Pra-konvensional, merupakan level paling rendah dalam teori Kohlberg. Belum ada internalisasi nilai-nilai moral. Aturan dikontol oleh orang lain (eksternal), tingkatan yang baik akan mendapat imbalan dan tindakan buruk akan mendapat hukuman. Memiliki dua tahap yaitu;

a. orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience)

b. individualisme dan tujuan (self interest dan instrumental purpose)

2. Konvensional, merupakan level dimana internalisasi oleh individu telah terjadi. Internalisasi sebatas pada standar tertentu (internal), masih belum bisa menaati standar orang lain (eksternal). Terdiri dari dua tahapan;

a. norma-norma intrapersonal (Interpersonal conformity)

b. moralitas sistem sosial (social system morality)

3. Pasca-Konvensional, merupakan pemikiran tingkat tinggi, dimana moralitas dapat internalisasi dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. tahapannya;

a. hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (social contract or utility and individual rights)

b. Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles)

Jika disajikan di dalam tabel, kuarng lebih sebagai berikut;


Level 1
Preconventional
(Tidak ada internalisasi)
Level 2
Conventional
(Internalisasi setengah)
Level 3
Postconventional
(Internalisasi penuh)

Stage 1
Punishment and obedience

tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat.

Stage 3
Interpersonal conformity

seseorang menghargai kebenaran, keperdulian dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral.

Stage 5
social contract or utility

and individual rights
nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.

Stage 2
self interest and instrumental purpose

penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri

Stage 4
Social System

pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

Stage 6
universal ethical principles

pengembangan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia (HAM) universal.


2. Kritik-kritik terhadap Teori Kohlberg

1. Budaya dan Perkembangan Moral

Miller (2007) meyatakan bahwa pendekatan yang diungkap oleh Kohlberg tidak dapat mencakup banyak dari penalaran moral, ada beberapa konsep moral penting dalam budaya tertentu yang pendekatannya tidka sesuai dengan teorinya.

2. Perspektif Gender
Penelitian yang dilakukan oleh Kohlberg dalam menentukan teorinya tersebut, hanya banyak melibatkan laki-laki daripada perempuan.

3. Penalaran Konvensional Sosial
Terfokus pada pemikiran tentang konsensus dan konvensi sosial

4 Komentar

Huda M

pada : 19 April 2012


"Nice Post!"


Cep Lukim

pada : 23 April 2012


"Thanks Gan komengnya... ;) sering mampir ya,,, "


ARIQA

pada : 28 December 2013


"Terima kasih artikelnya :) Bisa minta ditambahkan referensi penulisan artikel ndak? :)"


Cep Lukim

pada : 03 March 2014


"Sama-sama... Iya, nanti saya cari lagi filenya. lupa mencantumkan referensi. Terima kasih sudah berkunjung :)"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :