PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Ganyang Sini Ganyang Sana

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 09 March 2012
di Buah Pikiran - 2 komentar

Lagi-lagi, Indonesia vs Malaysia

  Akhir-akhir ini, Kementerian pendidikan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) meluncurkan peraturan baru terkait dengan kelulusan mahasiswa di perguruan tinggi. Kabarnya, untuk kelulusan sebelum periode bulan Agustus tahun ini, selain skripsi, mahasiswa juga dituntut untuk membuat jurnal ilmiah yang diterbitkan. Suatu langkah konkret dari pihak Dikti menyikapi rendahnya jurnal yang dihasilkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia.

 Peraturan tersebut memang bukanlah sebuah wacana saja, akan tetapi mulai digalakkan oleh Dikti. Adapun surat edaran yang dikeluarkan 27 Januari 2012, bernomor 152/E/T/2012 perihal tentang Publikasi Karya Ilmiah telah menjadi bukti tentang keseriusan realisasi masalah ini (www.lampungpost.com). Tentunya, surat ‘wasiat’ tersebut menjadi gonjang-ganjing di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa S1 yang berniat ingin melakukan wisuda di tahun ini.

 Poin utama yang menjadi sorotan oleh pihak perguruan tinggi maupun mahasiswa, bahwa ternyata alasan yang dilontarkan terkait peluncuran surat keputusan tersebut lebih diutamakan untuk mengejar ketertinggalan dari Malaysia. Hal tersebut memberikan kesan bahwa tujuan utama dari adanya keputusan tersebut bukan karena untuk meningkatkan kualitas mahasiswa semata, tapi lebih ke arah kompetisi antar negara, yang sedari dahulu seolah telah menjadi musuh bebuyutan.

Berdasarkan data yang diakses dari situs Scientific Journal Rankings (SJR), Dari beberapa negara di Asia Tenggara Indonesia hanya memperoleh posisi di peringkat 64. Sedangkan Malaysia berada jauh di atas Indonesia menduduki peringkat 43. Sementara Singapura lebih jauh di atas lagi, yakni menduduki peringkat 32 (http://www.scimagojr.com/countryrank.php). 

 

Untungnya, Indonesia Masih Memiliki Need for Achievement yang Tinggi

Perseteruan yang terjadi hingga saat ini bukanlah hal yang terjadi baru-baru ini, namun hal tersebut sudah menjadi rahasia umum yang diceritakan oleh sejarah Indonesia. Pada masa orde lama, konstelasi politik antara Indonesia dan Malaysia terus memanas. Hal ini terlihat dengan adanya politik “Ganyang Malaysia” yang dikonfrontasi oleh Soekarno kala itu. Politik ini merupakan upaya penolakan terhadap berdirinya negara persemakmuran Inggris, Federasi Malaysia. Malaysia dinilai sebagai bentuk pengaruh imprealisme barat yang disebarkan oleh Inggris.

Setelah sempat mereda pada masa pemerintahan orde baru, persamaan rumpun (melayu), sejarah, geografis, dan persamaan bahasa yang sama tidak dapat mempertahankan kelanggengan hubungan baik kedua negara. Konflik kembali muncul akibat klaim budaya yang dilakukan Malaysia, ataupun isu-isu perebutan perbatasan wilayah (Pulau Sipadan dan Ligitan, Ambalat, Sabah, Serawak). Sepak terjang yang dilakukan oleh Malaysia tentunya membuat gerah pihak Indonesia. Akibatnya, segala kemajuan yang dialami oleh Negeri Jiran tersebut, memberikan sengatan tersendiri bagi Indonesia untuk dapat bersaing.

Kacamata psikologi dapat mengaitkan peristiwa tersebut dengan teori motivasi. Dari banyaknya teori motivasi yang di kemukakan oleh tokoh-tokoh psikologi, dapat diambil beberapa teori yang relevan. Theory of Needs yang dikemukakan oleh Maslow (1943;1970) menempatkan kebutuhan akan penghargaan (berupa prestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan dan pengakuan) dalam salah satu hirarkinya. Kebutuhan untuk berprestasi yang ditunjukan oleh Indonesia dalam menghadapi Malaysia sangat terlihat jelas. Salah satu yang terlihat dari adanya kebutuhan untuk berprestasi adalah surat edaran yang dikeluarkan 27 Januari 2012. `

Mc Celland (1961) sendiri memiliki pandangan berbeda terkait dengan achievement theory, menurutnya ada tiga hal penting yang menjadi dasar kebutuhan yaitu kebutuhan untuk prestasi, afilisiasi, dan kebutuhan untuk berkuasa. Dua hal yang harus digaris bawahi yakni kebutuhan prestasi dan berkuasa bisa dikatakan menjadi kebutuhan yang ingin dicapai oleh Indonesia dalam kasus ini.

 

Siapa Mengalahkan Siapa?

Adanya persaingan antara kedua negara bertetangga perlu disikapi dengan positif. Setidaknya dari pihak Indonesia, khususnya pemerintah yang mengelola keberjalannannya pemerintahan mulai terbangunkan dengan adanya gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Malaysia. Mungkinkah batik khas Indonesia akan menjadi populer di dunia dan patennya telah dimiliki oleh Indonesia, atau lebih melihat ke topik yang dibahas di sini, mungkinkah kementerian pendidikan nasional segera segera merespon dengan membuat surat tentang publikasi ilmiah jika tidak ‘dipanas-panasi’ terlebih dahulu oleh Malaysia? Jawabannya maybe yes or maybe no.

Dalam pandangan penulis sendiri, adanya kepetusan tentang hal tersebut lantas tidak membuat get another listening and understanding atau dalam singkatnya disebut GALAU. Tetapi adanya aturan ini membuat penulis yang statusnya sebagai mahasiswa aktif di tengah-tengah, (bukan mahasiswa baru atau mahasiswa yang telah relatif lama menempuh pendidikan di fakultas) menjadikannya tantangan dan berusaha mencari solusinya. Hal pertama yang terpikir adalah untuk segera memersiapkan program penelitian sebagai bahan penulisan jurnal kelak. 

Sungguh beruntung, di Fakultas Psikologi Unair ini telah terdapat Unit Penelitian Publikasi Psikologi (UP3) yang  menjadi wadah bagi mahasiswanya yang mempunyai pemikiran seperti penulis. Suatu keberuntungan atau bukan, yang jelas hal ini sangat mendukung dalam medukung adanya keputusan Dikti tersebut.  

Penulis memandang UP3 merupakan suatu sarana untuk membantu program penelitian sekaligus publikasi tentang masalah psikologi khusnya. Harapannya, ketika penulis masuk menjadi salah satu anggota magangers, akan didapatkan banyak hal praktis terkait dengan penelitian. Karena pada kondisi saat ini, penulis belum banyak mengetahui tentang seluk-beluk bagaimana penelitian tersebut.

Selain penelitian, adanya kemudahan dan informasi untuk mempublikasikan jurnal menjadi poin penting yang patut diperhatikan. Karena dari hasil penelitian yang dilakukan tanpa adanya publikasi, seolah-olah tidak adanya pengakuan eksistensi diri bagi sang peneliti. Publikasi menjadi poin penting dalam menginformasikan hasil penelitian kepada khalayak.

Secara umum, penulis memandang bahwa UP3 merupakan salah satu unit di psikologi yang dapat mewadahi mahasiswa yang berminat dalam hal penelitian. Lebih spesifiknya lagi menjadi salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program Dikti terkait adanya pewajiban pembuatan jurnal ilmiah yang dipublikasikan sebagai prasarat kelulusan mahasiswa.    

 

Dus, Masalahnya Adalah dari Diri Sendiri

Penting untuk dicatat, keputusan yang diambil oleh Dikti dengan mengeluarkan surat ‘wasiat’ tersebut hendaklah disikapi dengan sikap yang positif. Need for Achievement yang dimiliki oleh bangsa ini merupakan hal yang menjadi senjata sekaligus kelebihan bagi masyarakat Indonesia untuk tidak berleha-leha. Cukuplah sudah, perilaku yang tunjukkan oleh negara tetangga yang terus menerus melakukan propagandanya kepada Indonesia. Tidak perlu dihadapi dengan ‘otot’, langkah Dikti mengeluarkan surat publikasi ilmiah merupakan salah satu cara yang bijak untuk mengatasi masalah perseteruan ini.

Tinggal bagaimana diri sendiri, khususnya mahasiswa dapat bersinergi dengan universitas masing-masing menyukseskan keputusan Dikti tersebut. Sehingga cara eleganlah yang ditempuh untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa ini. Agar pihak negara tetangga tidak melulu memandang remeh sehingga terus menerus meluncurkan propaganda yang dapat memicu permusuhan.

Sebagai insan psikologi, penulis memandang bahwa kunci utama dalam menyikapi masalah global adalah dengan berbenah dari diri sendiri, dari yang paling kecil, dan mulai saat ini. UP3 merupakan unit yang bertempat dalam ruangan kecil namun akan menghasilkan terobosan besar untuk menghadapi masalah global, yang dapat dimanfaatkan keberadaannya dalam menyikapi permasalahan tersebut. Harapannya, dari sinilah keilmuan di bidang psikologi khususnya dapat berkembang, hingga karya-karya yang dihasilkan dapat terpublikasi, sehingga masyarakat luar dapat melihat bagaimana Indonesia sesungguhnya,. Berawal dari diri sendiri dan adanya UP3.

Sumber:

Anonim. 2012. Hubungan Indonesia dengan Negara Asia Tenggara (ASEAN). http://frenndw.wordpress.com/category/politik-luar-negeri-indonesia/ diakses tanggal 8 Maret 2012.


Redaksi. 2012. Publikasi Ilmiah Indonesia Jauh di Bawah Indonesia. http://www.lampungpost.com/dunia-kampus/24244-publikasi-ilmiah-indonesia-jauh-di-bawah-malaysia.html diakses tanggal 8 Maret 2012


SCImago Journal & Country  Rank (SJR). http://www.scimagojr.com/countryrank.php diakses tanggal 8 Maret 2012.


Weiten, Wayne. (2005). Psychology : Themes and Variations. Sixth Edition. USA: Wadsworth/Thomson Learning

 

2 Komentar

ABG keren

pada : 09 March 2012


"mantap gan, emang yang terpenting adalah dimulai dari diri sendiri dengan cara memperbaiki diri, hehehe"


Cep Lukim

pada : 20 March 2012


"hehehe... okeh Gan... semangat berbenah ya gan... :)"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :