PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

SIRINE: POLISI VS AMBULAN

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 12 October 2011
di Buah Pikiran - 0 komentar

Saat saya terbangun dari tidur, saya seketika langsung mendengar dengungan suara sirine. Entah itu sirine yang dikenakan pada mobil polisi, entah mobil ambulan. Karena kebetulan kos-kosan saya terletak tidak jauh dari jalan raya. Itu terjadi pagi-pagi sekali. Apa hubungannya? Jawaban saya adalah jelas-jelas tidak ada sama sekali. Kecuali dipaksa dihubung-hubungkan sehingga terjadi sebuah hubungan. Tepat, karena kali ini saya akan menghubungkan kejadian tadi dengan bangun tidur saya, lebih tepatnya lagi ‘pemerkosaan’  sebuah hubungan.

Sekarang waktunya berandai-andai. Seandainya yang terjadi di pagi hari itu adalah suara dengungan sirine polisi, maka benak dan pikiran saya langsung terasosiasi kepada tindakan kriminal. Saya akan berimajinasi bagaimana seorang penjahat yang tertangkap basah sedang melakuakan aksinya, kemudian seseorang menghubungi 911. Polisi datang kemudian terjadilah aksi kejar-kejaran. Kayak di film-film banget. Tetapi bisa kejadian itu nyata, hal seperti itu tidak  mustahil terjadi sekarang ini.

Bagaimana hubungannya dengan tidur saya? Saya akan merunut ke belakang terkait dengan aktifitas sebelum kejadian pagi itu. Pada malam harinya, saya sedikit bercengkrama dengan laptop saya, sambil berfikir butuh uang banyak untuk bisa bertahan hidup di kota besar. Tidak lama kemudian sayapun tewas tergilas mimpi. Saat bangun kejadian suara sirine itu terjadi. Bagaimana dengan sang pembuat kriminal. Saya rasa mungkin saya dan dia mempunyai motif yang sama dengan jalan yang berbeda dalam titik permasalahan ini. Uang.

Pada waktu bersamaan, ketika saya sedang ngorok, dia mungkin tengah mencungkil-cungkil jendela dengan ‘sebuah alat’. Sementara seorang teman lainnya tengah menunggunya sambil mengawasi  di atas motor yang mereka pakai. Sasarannya adalah segepok uang milik seorang kaya, agar dia bisa membayar uang berobat istrinya yang sakit, atau uang iuran sekolah anaknya mungkin. Salahkah?.

Ingat jangan menjustifikasi sesuatu seenae’ dewe’, perkara benar-salah itu milik Yang di Atas. Mungkin secara sepintas usaha yang dilakukannya itu salah, menurut norma yang dianut masyarakat. Tetapi pihak lainpun bisa juga disalahkan. Kenapa orang-orang kaya banyak pelitnya dari pada murah hatinya? Dimintai keikhlasannya, eh malah dimaki. Dimintai pinjaman, nuntut ngembaliin dengan bunga tinggi. Sementara kesejahteraan yang dijanjikan pada saat kampanye calon pemimpin, ternyata sampai saat ini belum terpenuhi. Bagaimana jadinya negeri ini. Wajar toh kalau misalkan itu terjadi? Saya jadi teringat dengan film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Isi cerita film yang bisa saya simpulkan adalah ‘serba salah’. Kerja haram, salah. Kerja halal, juga salah.

Orang-orang yang seperti tersebut di atas sajakah yang salah? waktunya mengadili diri sendiri. Apa yang saya lakukan ketika seorang anak seumuran SD kucel, menawarkan korannya kepada saya. Koran seharga dua ribu rupiah, sementara di dompetku tersisa uang sepuluh ribu rupiah untuk akhir bulan itu. Saya lalu berpikir, sekali makan plus minum dihargai sepuluh ribu rupiah di kota ini. Lalu akhirnya  terkatakan “Maaf de, nggak ada uang.”

Sebagai orang yang pas-pasan saat akhir bulan datang, bagi anak kos-kosan mungkin merupakan hari terberat. Sehingga merasa dirinya orang paling miskin, paling nelangsa di dunia ini.  Padahal di sekitarnya ada orang yang lebih-lebih lagi mengalami penderitaan yang, berlipat-lipat derajat mungkin. Lebay, pada kenyataannya memang begitu, ketika ditimpa dengan sedikit saja ujian, langsung kebakaran jenggot. Mungkin itulah penyakit orang ‘pas-pasan’, terlalu menghiperbolisasi masalah. Sehingga ketika ada permintaan tolong dari orang yang benar-benar patut di tolong, lantas melemparkannya kepada orang lain. “Itu mah tanggung jawabnya pemimpin, orang kaya, salah para koruptor.” Dsb-dsb. Padahal dengan sedikit memekakan kepedulian saja, pada saat itu mungkin saya telah mencegah sesuatu yang luar biasa. Misalkan si anak penjual koran tadi butuh uang untuk makan, tetapi karena hari itu ia tidak dapat penghasilan, sedangkan perut sudah ‘teriak-teriak’. Jalan terakhir adalah dengan mencuri. Masih beruntung itupun kalau tidak ketahuan, nah kalau ketahuan, bisa dikejar-kejar masa, digebukin, babak belur sampai mati. Lebay!.  Coba kalau uang sepuluh ribu itu dikeluarkan.

Ah... bisanya ngata-ngatain lebay doang!, iya saya tahu, itu cuma kata lelucon. Tetapi apa akan sempat ngata-ngatain seperti itu di saat kamu sakit?. Misalkan saja sirine yang terjadi di pagi-pagi sekali itu berasal dari mobil ambulan yang melintas menuju ke arah RSU Dr. Soetomo Surabaya, dan yang berada di dalamnya adalah Anda. Jangan, tidak baik mendoakan kejelekan buat orang lain, misalkan saya. Malamnya saya sempat bercengkrama dengan laptop, sambil mikir tentang uang. Lalu tergilas sang mimpi, tiba-tiba keesokan paginya pagi-pagi sekali aku berada dalam ambulan tersebut. coba Anda tebak, apa yang saya pikirkan pada saat itu? Bukan uang yang banyak untuk dapat bertahan hidup di kota besar ini, juga untuk membiayai berobat di RSU, seperti pada saat malam harinya saya pikirkan. Tetapi untung-rugi!.

“Lha sama ae, untung rugi nyangkut masalah perdagangan, dan perdagangan ujung-ujungnya nyangkut uang!”. Anda tidak salah, tetapi bukan itu maksud saya. Untung-rugi menyangkut masalah waktu, dan waktu ujung-ujungnya nyangkut sama kematian. Wuih... serem, “lha wong saya masih muda kok.”  Bukannya Almarhum Mas Adjie Massaid (semoga diterima semua amal baiknya) belum kepala lima sehabis bermain futsal tiba-tiba wafat?. Terhitung muda kan?? Muda walaupun sudah agak sepuh. Tapi terserahlah, masih ada contoh orang lebih muda yang tiba-tiba wafat, padahal beberapa waktu sebelumnya masih seger-buger.

Di saat terbaring di dalam ambulan dengan tubuh ditumbuhi selang, (jangan katakan lagi lebay karena telah saya katakan sebelumnya tidak kepikiran kata-kata itu di saat sakit), roda-roda mobil ambulan berpacu dengan waktu. Masihkah nyawaku terselamatkan atau terjerumuskan kepada kematian. Sayapun berpikir demikian, apakah kala itu merupakan akhir kehidupan saya di dunia, atau masih ada harapan untuk memperbaiki kehidupan yang ambradul. Dalam keadaan sekarat seperti itu, saya menggumamkan berbagai janji kebaikan untuk kesembuhan. Diawali dengan janji untuk lebih taat beribadah, karena saya orang beragama. Kemudian berbuat kebaikan, juga mungkin teringat dengan kejadian tempo dulu dengan anak loper koran yang mati gara-gara tidak keluarnya uang sepuluh ribu rupiah dari dompet saya, dan janji-janji lainnya yang tidak kalah manis dengan janji-janji yang saya sering dengar ketika hangat-hangatnya kampanye pemilu.

Manusiawi bukan? Ya, tetapi saya kira ketika kita terus mengandalkan kepada kata “manusiawi” maka ketika mencapai tahap over dosis, ujung-ujungnya jadi pecundang juga. Ketika sebuah kesalahan dikatakan manusiawi, maka saya sebagai manusia yang bukan hewan, cenderung ketika melakukan kesalahan menganggapnya sebagai hal wajar yang dapat dilakukan oleh manusia. Jika itu terus ditanamkan di dalam pikiran, maka kesalahan-kesalahan yang semestinya bisa dihindari terjadi begitu saja tanpa antisipasi. Akibatnya ketika menghitung untung-ruginya dengan waktu, yang saya dapatkan adalah kerugian.     

Kerugian akan terus berujung pada kebangkrutan apabila kerugian-kerugian tersebut tidak bisa dihentikan. Dalam kata ini kebangkrutan yang terjadi adalah mungkin sebuah kematian. Misalkan saja kerugian tersebut adalah sebuah kenyataan bahwa ketika saya sakit, saya mendapat begitu banyak kesempatan baik terlewatkan. Kesempatan untuk lebih taat pada Sang Pencipta, ataupun berbagi rezeki dengan orang yang memang butuh pertolongan saat kesehatan sedang bersahabat baik dengan tubuh dan jiwa saya. Tetapi ketika saya berbaring di dalam ambulan dan selanjutnya kematian akan menjemput saya. Maka bukan lagi kerugian yang akan saya dapatkan, tetapi kebangkrutan, dimana saya tidak memiliki kesempatan lagu untuk melaksanakan janji-janji kebaikan yang tadi saya kemukakan.   

Lantas bagaimana saya mendapatkan kerugian akan waktu tersebut?. Jika melihat dua kasus yang diandai-andaikan di atas, ada satu kata kunci yang menjadi benang merah d antara ke duanya, yaitu MENUNDA-NUNDA. Saya tidak akan berpanjang-panjang kembali menulis opini setelah mengemukakan inti yang ingin saya katakan. Satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa jika saya ingin mendapat untung dengan jatah waktu di dalam kehidupan yang saya miliki, lakukanlah hal yang berantonim dengan kata kunci tersebut. Saya percaya Anda dapat mengerti apa yang saya maksudkan.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyatakan bahwa ternyata itu hanya khayalan. Pada kenyataannya saya tidak mengetahui secara pasti apakah memang ada maling yang dikejar-kejar polisi saat pagi-pagi sekali itu, dan juga saya tidak terbaring di rumah sakit. Saya masih sehat wal afiat. Sesuatu yang jarang saya sadari dan syukuri bahwa hidup ini adalah hal terindah. Tetapi kapanpun dan dimanapun mungkin sesutau yang dapat menjadikan kita “bangrut” bisa saja terjadi.    

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :