PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Otentisitas Manusia

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 12 October 2011
di Psikologi Kepribadian dan Sosial - 0 komentar

Gono Gini Tentang Otentisitas

Perbicangan mengenai otentisitas seolah menjadi sebuah angin segar bagi polemik kehidupan ini. Pasalnya, ke-otentik-an yang menjadi sebuah ciri khas tersendiri bagi seorang manusia. Manusia otentik dalah manusia yang menjadi dirinya sendiri, manusia yang tidak menjiplak dari orang lain, sehingga memiliki sikap dan pendirian sendiri. Begitu menarikkah otentisitas pada saat ini? Tengok saja realitas yang ada, dari mulai buku self-help, majalah, bahkan acara televisi begitu gencarnya mengusung konsep ini. Oprah misalkan, ataupun Kick Andi, kedua tanyangan ini menyajikan tema tentang otentisitas, menampilkan bintang tamu yang dianggap “menemukan dirinya sendiri”. Ingat bagaimana kisah-kisah inspirasi yang dipaparkan oleh bintang tamu dalam acara Oprah? Serasa mata air di tengah padang pasir. Setidaknya itulah makna yang ditangkap dari otentisitas. Sesuatu yang orisinil dan unik terasa sebagai sesuatu yang sangat diakui di dalam kehidupan ini.

Namun kadangkala secara tidak dapat disadari, hal-hal seperti itu, yang secara tampak terlihat inspiratif memberikan bumerang tersendiri bagi tumbuhnya otentisitas. Individu akan terarahkan kepada keunikkan otentisitas yang telah dicapai oleh individu lainnya, sebagaimana diungkapkan oleh David Riesman (1950) dalam konsepnya other-directed individual, individu yang terarah pada individu lainnya. Tetapi dari kasus-kasus tersebut justru sangat terasa pentingnya sebuah otentitas, sebagai sebuah indentitas bagi seorang individu yang dapat membedakan satu dengan lainnya, menjadi manusia yang seutuhnya unik dari manusia yang lainnya.

 

Tetapi, Bisakah Mewujudkan Keotentikan Tersebut?

Makna dari sebuah otentisitas begitu terasa pada masa sekarang ini. Di tengah pengaruh dan membanjirnya media massa, budaya pop, konsumerisme, dan gaya hidup jaman sekarang, kesemuanya itu memberikan sebuah hegemoni berupa kepalsuan-kepalsuan ataupun ketidak-real-an. Realitas sosial yang membanjiri dan berpengaruh, seperti halnya yang telah disebutkan-semacam media massa, budaya pop, konsumerisme, dan gaya hidup jaman sekarang-terhadap otentisitas seorang individu, menciptakan sebuah pandangan global tentang manusia.

Menyadari kasus-kasus yang terjadi seperti itu, timbul sebuah pertanyaan ‘bisakah manusia menjadi otentik di tengah situasi lingkungan sosial yang membelenggu diri?’. Mengutip kalimat seorang filsuf terkenal, Karl Max melontarkan “hanya menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda, yang penting adalah mengubahnya.” Penulis memahami dari ucapan Max, keotentisitasan seorang manusia adalah sebuah kemutlakan yang dimiliki, akan tetapi cara menafsirkan keotentikan itulah sendiri yang berbeda.

Pandangan tentang otentisitas dalam tataran global, muncul sebagai akibat dari sebuah pandangan mengenai keotentisitasan dari sudut pandang realitas sosial. Padahal, untuk menuju sebuah keotentisitasan, perubahan yang diperlukan bukanlah dari segi realitas sosial, akan tetapi dari sudut pandang individu ataupun cara seseorang melihat dirinya sendiri dan dunianya. Upaya untuk memahami manusia, tidak bisa hanya dilihat dari segi tataran global semata, akan tetapi sisi personal dan ekstensial juga perlu diperhatikan. Karena sesungguhnya pengalaman manusia terlalu kaya dan fluktuatif untuk hanya dapat dipahami dengan rasio (Wattamena, 2007).

Bedasarkan pandangan filsafat eksistensialisme, manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya, dalam rangka “menemukan dirinya sendiri” (Harun Hadiwijono, 1992). Eksistensi merupakan cara khas yang dimiliki manusia berada di dunia ini, dikatakan khas karena kesadaran manusia tentang dia dan yang ada di sekitarnya membentuk seuatu hubungan.

Dari sisi lain, Satre mengemukakan bahwa manusia bagi dirinya sendiri merupakan subjektivitas yang sesungguhnya. Dua pendapat ini dapat menjadi rujukan bahwa bisa atau tidaknya manusia menjadi otentik tidak dapat ditentukan melalui realitas social yang ada. Akan tetapi, sekali lagi, otentisitas ditentukan oleh sudut pandang individu itu sendiri, ataupun cara seseorang melihat dirinya sendiri dan dunianya.

Persepsi tentang realitas sosial, terlebih didasarkan pada fakta-fakta dangkal, tentang ketidakbisaan seorang individu untuk menjadi otentik hendaknya ditinjau ulang kembali. Karena manusia sebagai individu memiliki kemampuan untuk berpikir secara logis, rasional, dan terpilah-pilah. Kemampuan tersebut yang oleh Descartes disebut sebagai subjektivitas manusia, dengan rumusan terkenalnya ‘aku berpikir maka aku ada’. Subjektivitas yang dimiliki manusia itulah yang menempatkan manusia dari ketidakberdayaannya terhadap pengaruh-pengaruh realitas social yang membanjiri pada saat sekarang ini. Keberanian untuk menentukan pilihan-pilihan dan keputusan hidupnya merupakan sebuah gambaran tentang otentisitas yang dimiliki manusia.

Otentisitas untuk Kehidupan Psikologis Manusia

  Apa arti otentisitas bagi manusia sekarang ini? Pernahkah Anda mendengar istilah Malafide (Bad Faith)?, manusia malafide adalah manusia yang menghilangkan rasa cemas dengan menghilangkan kebebasannya (Zainal Abidin, 2011). Manusia Malafide merupakan contoh dari manusia yang tidak memiliki otentisitas. Apa pasal? merujuk kepada konsep milik Satre, bahwa manusia bagi dirinya sendiri merupakan subjektivitas yang sesungguhnya. Subjektivitas itulah yang menjadi salah satu prasyarat untuk menjadi otentik.

Dapat diterangkan, bahwa manusia malafide tidak mengangap dirinya sebagai subjek, namun mengidentivikasikan dirinya sebagai objek. Subjektivitas manusia yang dipersyaratkan memiliki ketentuan bahwa, manusia bertindak sebagai pelaku aktif dalam kehidupan ini. Bukan suatu objek, yang dalam artian sebagai sesuatu yang pasif yang dapat dikendalikan oleh hal lain, atau dapat dikataan sebagai ‘objek penderitaan’ dari subjek.

Bentuk yang akan didapatkan dari manusia ‘jenis’ malafide adalah berupa ‘bunglon’ yang senantiasa berubah-ubah dalam setiap bertinteraksi dengan orang lain. Ia tidak pernah akan dapat menunjukkan kebebesan dari dirinya, dapat menunjukkan keunikan dan kelebihan yang dimilikinya, serta senantiasa menjadi pembeo ataupun menjadi manusia robot yang meniru-niru orang lain.

Setelah menjadi pembeo ataupun menjadi manusia robot, lantas apa yang akan didapatkan sebagai seorang manusia dalam kehidupan di dunia ini? keberadaannya tentunya patut disangsikan. Karena seperti yang dikatakan oleh Descartes ‘aku berpikir maka aku ada’, eksistensi sebagai seorang manusia menjadi sangat penting terhadap keberadaaannya di dunia ini. Selanjutnya, jika disodorkan sebuah pertanyaan kembali ‘apa arti otentisitas bagi manusia sekarang ini?’, jawabannya adalah untuk menghindari menjadi manusia malafide.

Terakhir

Walhasil, otentik berarti tidak palsu, orisinil. Manusia otentik adalah manusia yang menjadi dirinya sendiri, yang memiliki sikap dan pendirian sendiri. Memiliki otonomi yang berdasarkan kepada keadaran hati nurani. Kendati saat ini otentisitas terus menjadi polemik bagi pembahasan tentang manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi sebuah angin segar bagi kehidupan di dunia ini.

Otentisitas seseorang tidak dapat dilihat dari sudut pandang global, yang hanya akan melihat realitas sosial yang menawarkan fakta-fakta dangkal. Akan tetapi harus dilihat dari perspektif personal dan ekstensial. Pentingnya otentisitas bagi kehidupan manusia sekarang ini, untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang merdeka, dapat menentukan dirinya sebagai subyek yang dapat menghadapi kenyataan ini. Terlepas dari kontroversi yang ada tentang sudut pandang otentik, setiap manusia khususnya sebagai individu memiliki sebuah keotentikan tersendiri, karena manusia adalah unik antara satu dengan yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. (2011). Seri Kuliah Umum Filsafat “Subjektivitas Menurut Jean-Paul-Sartre”Kesadaran, Kebebasan, Dan Otentisitas Manusia. Berfilsafat Bersama Jean Paul Sartre. http://salihara.org/community/2011/02/19/kesadaran-kebebasan-dan-otentisitas-manusia-berfilsafat-bersama-jean-paul-sartre. Diunduh pada Minggu, 03 Juli 2011

Gallagher, Kenneth T. (1994). Epistemologi Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius

Hadiwijono, Harun. Dr. (1992). Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius

Bakker, A. (2000). Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Riesman, David. (1950). The Lonely Crowd: A Study of Changing American Character. New Haven: Yale University Press.

Surajiyo. (2005). Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Wattimena, Reza A. A. (2011). Berani Menjadi Diri Sendiri!! Diskursus tentang Otentisitas dan Makna Hidup. http://rumahfilsafat.com/2007/07/05/berani-menjadi-diri-sendiri-diskursus-tentang-otentisitas-dan-makna-hidup/. Diunduh pada Minggu, 03 Juli 2011

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :