PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Seperti Apakah Gaya Pengasuhan dan Kesehatan Mental Anak CIBI di Arab?

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 27 August 2015
di Psikologi Pendidikan - 0 komentar

Ringkasan Abstrak

 

Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Dwairy ini untuk mengetahui hubungan gaya pengasuhan dan penyesuaian psikososial pada remaja gifted dan non-gifted di Arab. Subjek yang diteliti sebanyak 118 siswa gifted dan 115 non-gifted suku Arab di Israel. Alat ukur yang digunakan antara lain: The Parental Authority Questionnaire, Child Attitude Toward Parents, Lipsitt’s Self-Concept Scale for Children, Rosenberg Self-Esteem Sclae, dan The Psychological State Scale. Hasilnya menunjukkan bahwa gaya pengasuhan remaja gifted lebih ke arah otoritatif dan hanya sedikit otoriter dibandingkan dengan gaya pengasuhan pada remaja non-gifted.

 

Dampak dari adanya perbedaan gaya pengasuhan tersebut berhubungan dengan sikap mereka terhadap orangtua. Remaja yang mendapatkan gaya pengasuhan otoritatif cenderung lebih positif terhadap orangtua mereka dibandingkan remaja non-gifted. Selain itu, gaya pengasuhan tersebut membuat remaja gifted memiliki self-esteem yang lebih tinggi, memiliki lebih sedikit teridentifikasi gangguan, fobia, dan gangguan konduk (condact disoreder) dibandingkan remaja non-gifted.

 

Dilihat dari segi gaya pengasuhan, orangtua yang menerapkan gaya otoritatif memberikan korelasi positif terhadap kesehatan mental para remaja, baik itu gifted maupun non-gifted. Sementara gaya pengasuhan otoriter (authoritarian) memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental hanya kepada remaja gifted, tidak kepada remaja non-gifted. Intinya kesimpulan dari penelitian ini bahwa gaya pengasuhan orangtua dengan tipe otoriter (authoritarian) menjadi faktor yang penting dalam mempengaruhi kesejahteraan (well-being) anak gifted dan bisa jadi berdampak pada penyesuaian psikologis mereka. 

 

Review Jurnal

 

Jurnal tersebut bertujuan untuk mengetahui pola hubungan antara pola asuh yang terjadi pada keluarga dengan penyesuaian psikososial anak remaja gifted. Pola asuh yang disajikan di dalam jurnal ini terdiri dari pola autoritatif, otoriter, dan permisif. Pola asuh dengan menggunakan gaya otoriter, orangtua cenderung memberikan dominasi lebih bahkan cenderung mengendalikan anak. Gaya pengasuhan dengan model permisif cenderung kebalikannya, anak cenderung ‘diserbabolehkan’ oleh orangtua. Adapun perpaduan antara kedua model tersebut adalah gaya autoritatif, anak-anak diberikan tanggung jawab tertentu, tetapi orangtua tetap memiliki peranan dalam memonitoring anak.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Dwairy ini bisa dikatakan menarik, rasa kepenasarannya membuat ia ingin mengujikan hasil dari teori-teori sebelumnya yang menyatakan bahwa pola asuh yang paling baik adalah pola asuh autoritatif. Penelitian ini mencoba menguji teori tersebut, yang kebanyakan teori tersebut berdasarkan hasil penelitian di negara-negara barat, dengan setting budaya yang berbeda. Sementara di negara Arab sendiri, seperti yang pada penelitian ini jelaskan, negara Arab memiliki kultur kebersamaan (collective) dan otoriter. Anak diharapkan patuh terhadap pengharapan dan perintah/aturan-aturan orangtua maupun gurunya. Artinya kepatuhan menjadi nilai pendidikan utama di dalam budaya Arab tersebut.

 

Penelitian ini diujikan untuk melihat adakah hubungan antara pola asuh tersebut dengan penyesuaian psikososial anak, terutama anak dengan keberbakatan. Hasilnya jelas menunjukkan terdapat pola pengasuhan antara anak gifted dengan non-gifted. Negara Arab yang memiliki budaya kolektivitas dan penerapan pola asuh yang cenderung otoriter, pada subjek penelitian yang diterapkan kepada siswa gifted dengan tipe successful ini, pola asuh terbaik adalah dengan model autoritatif. Dimana orangtua cenderung moderat dalam mendidik anaknya. Adapun orangtua anak gifted pada penelitian ini dominan menerapkan pola asuh autoritatif.

 

Sedangkan hubungan antara pola asuh dengan penyesuaian psikososial pada anak gifted, pola asuh autoritatif berdampak pada tingginya self-esteem, lebih sedikit teridentifikasi gangguan, fobia, maupun gangguan konduk (conduct disorder). Selain itu, berkoralasi pula dengan kesehatan mental remaja. Intinya pola asuh turut memberikan andil bagi kesejahteraan (well-being) dan penyesuaian psikologis, khususnya pada anak gifted tipe successful.

 

Gifted dan Model Pengasuhan Orangtua

 

Anak dengan giftedness, memiliki karakteristik tertentu yang memiliki ciri-ciri general yang secara umum masyarakat setuju dengannya, yaitu: memiliki kekhususan (exceptional) pada satu hal atau lebih jika dibandingkan dengan orang seusianya, giftedness merupakan bawaan lahir (nature) tetapi juga dikembangkan oleh pengaruh lingkungan (nurture), keberbakatan dapat ditemukan pada masyarakat dengan berbagai kultur, etnik, dan kelompok sosialekonomi, juga pada masyarakat yang memiliki ketidakmampuan (disabilities) fisik, sensori, maupun belajar (Bevan-Brown dan Taylor, 2008).

 

Giftedness merupakan potensi sejak lahir (nature), tetapi keberbakatan itu perlu dikembangkan melalui pengaruh lingkungan (nurture). Pengembangan terhadap anak-anak gifted akan mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sehingga giftedness yang semula hanya potensi bisa berkembang menjadi sebuah keunggulan yang dimiliki individu tersebut, yang selanjutnya bisa bermanfaat bagi dirinya maupun ornag lain. Oleh itu faktor lingkungan turut berperan dalam pengembangan keberbakatan tersebut.

 

Orangtua ataupun keluarga menjadi lingkungan paling dasar dan utama dalam mengidentifikasi dan mengembangkan keberbakatan seorang anak. Selanjutnya sekolahpun turut berperan dalam mengembangkannya. Anak dengan keberbakatan tertentu memiliki karakteristik dan hal-hal yang dibutuhkan yang merupakan respon yang timbul untuk memenuhi keberbakatannya tersebut. Neihart dan Betts (2010) membuat enam tipe klasifikasi anak cerdas istimewa beserta dengan kebutuhan-kebutuhannya. Tipe yang akan sedikit dibahas di sini adalah anak cerdas istimewa tipe successful. Anak dengan tipe ini memiliki beberapa kebutuhan, antara lain butuh akan tantangan, melihat difisiensi, memilih mengambil risiko, memiliki kemampuan asertif, pengembangan kreativitas, pandangan yang lebih terkait intelegensi, pengetahuan mandiri, dan ketidaktergantungan dalam kemampuan belajar.

 

Kebutuhan-kebutuhan tersebut hendaknya diakomodasi oleh lingkungan sekitarnya, tujuannya untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Dalam kasus ini yang akan diulas selanjutnya adalah bagaimana bentuk dukungan keluarga (home support) terhadap anak gifted dengan tipe successful dalam penelitian yang dilakukan oleh Dwairy (2004) dikaitkan dengan bentuk dukungan keluarga yang dikemukakan oleh Neihart dan Betts (2010).

Neihart dan Betts (2010) menyatakan bahwa bentuk dukungan keluarga yang diberikan pada anak cerdas istimewa tipe successful adalah: orangtua perlu melepaskan dominasinya pada anak, memberikan independensi, memberikan kebebasan dalam memilih, memberikan pengalaman mengambil risiko, membolehkan anaknya untuk berada pada situasi yang sulit, menguatkan kemampuan anak untuk menanggulangi tantangan.

 

Merujuk pada bentuk dukungan lingkungan keluarga yang dikemukakan oleh Neihart dan Betts (2010), maka pola asuh yang diberikan oleh orangtua pada subjek penelitian Dwairy (2004) cukup sesuai dengan pola dukungan keluarga yang dikemukakan oleh Neihart dan Betts (2010) dalam mengoptimalkan anak cerdas istimewa.

 

Pola asuh yang diterapkan orangtua yang memiliki anak gifted pada subjek penelitian adalah lebih cenderung autoritatif dan sedikit otoriter dibandingkan dengan anak non-gifted. Orangtua yang menerapkan gaya otoritatif akan menampilkan kemampuan pengasuhan yang baik dan penggunaan kontrol orangtua yang moderat, serta mengarahkan anak-anak untuk menjadi lebih otonomi secara progresif. Anak dengan pengasuhan ini memiliki kepaduan dansangat baik dalam hal hubungan saling mendukung satu sama lain, dan terbuka dalam mengekspresikan sesuatu pada anggota keluarga. Orangtua menekankan pada hal-hal positif yang tidak dikondisikan terhadap anak-anaknya dan mendorong kemandirian mereka.

 

Dari segi penyesuaian emosi dan perilaku dengan pola asuh autoritatif juga menunjukkan korelasi positif. Anak dengan pola asuh otoritatif menunjukkan adanya self-concept dan self-esteem yang lebih tinggi, dan lebih rendah teridentifikasi kecemasan, depresi, dan conduct disorder.

 

Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya pengasuhan dengan pola autoritatif cenderung lebih cocok digunakan kepada anak cerdas istimewa. Hal ini turut menguatkan pandangan Neihart dan Betts (2010) terkait dukungan lingkungan keluarga untuk anak cerdas istimewa dengan tipe successful, lebih cenderung untuk diberikan independensi dan dukungan positif bagi anak.

 


 

Daftar Pustaka

Betts, G.T., & Neihart, M. (2010). The revised profiles of the gifted & talented: A research-based approach.

Bevan-Brown, J., & Taylor, S. (2004). Nurturing gifted and talented children, a parent-teacher partnership. Wellington: Ministry of Education of New Zealand.

Dwairy, M. (2004). Parenting styles and mental health of Arab gifted adolescent. Gifted Child Quarterly. 48 (4), 275-352.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :