PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Jurus Jitu Menjadi Entrepreneur

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 28 July 2015
di Nyangkut ke Psikologi - 0 komentar

Buat menjadi seorang wirausahawan memang gampang-gampang susah. Gampanganya, siapapun boleh dan punya kesempatan untuk memutuskan menjadi wirausahawan. Susahnya, tidak sedikit yang gagal di tengah jalan, bahkan sebelum memulai. Ane sendiri sebagai seorang mahasiswa yang masih belum lulus karena belum kelar juga menggarap skripsinya, punya impian besar buat jadi seorang wirausahawan. Pokoknya suatu saat nanti harus jadi seorang wirausahawan, begitu janji ane di dalam hati. Tapi pada akhirnya sampai saat sekarang ini ane malah terjebak sama mindset habis lulus kuliah langsung dapat kerja (jadi pekerja maksudnya).

 

Yups, walaupun gelar sarjana masih terkatung-katung, gini-gini alhamdulillah ane udah dikasi kesempatan buat jadi konselor pendidikan pada salah satu LBB di wilayah Surabaya. Bagi ane sih yang penting syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, tuk lakukan yang terbaik…

 

Lantas saat sudah dapat pekerjaan yang berdampak sama dapet gaji bulanan, apa ane sudah puas? Sebenarnya tetap hati kecil ane merasa belum puas. Keinginan buat jadi boss buat diri sendiri dan orang lain masih aja ada. Karena kalau kerja di orang lain itu tidak bisa bebas mengeluarkan kreativitas, cenderung dibelenggu sama aturan dan persaingan. Tapi enaknya banyak juga, mulai dari pendapatan yang cenderung tetap, bisa tau daerah-daerah baru (kalau lagi perjalanan kerja/dinas) tanpa keluar biaya, punya rekan kerja, dan masih banyak yang lainnya.

 

Balik lagi ngomongin tentang wirausaha. Sewaktu kuliah lagi aktif-aktifnya dulu, ane pun sempat merintis usaha kecil-kecilan. Mulai dari jualan anti radiasi HP, jualan alat permainan hasil dari pendaan PKMK, jualan infused water dan smoothies, ikutan MLM produk kebutuhan sehari-hari, dan lain-lain. Intinya dari semua rintisan itu sampai sekarang belum ada yang sukses. Baru-baru ini ane yang sudah jadi mahasiswa uzur di kampus, malah sempet-sempetnya ikutan Program Wirausaha Muda (PMW) sama dua adik tingkat cewek (hadeuh… modus banget ya). Tidak dinyana ternyata lolos mendapatkan modal dan harus dijalankan. Tapi sampai sekarang belum jalan juga.

 

Sejujurnya dengan posisi ane yang udah mulai kerja sekarang, dengan pendapatan yang setiap bulannya didapat, ane cenderung berada dalam zona aman dan nyaman. Suatu saat waktu lagi semangat-semangatnya mau jadi wirausaha, ane sempat sinis pada diri ane sendiri tentang pilihan karir selanjutnya. Pokoknya sehabis lulus kuliah, ane gak bakalan mau jadi pekerja atau PNS. Tapi sekarang baru nyaho… betapa enaknya dapat gaji bulanan tetap dari hasil menjadi pekerja/karyawan.

 

Ada aja lagi alasan yang menghambat jadi seorang wirausaha. Biasanya bahasa yang paling klise adalah nggak punya modal! Jangan salah, ini juga terjadi sama diri ane sendiri. Kalaulah ane punya modal, ane bakalan buat bisnis ini-itu. Nah giliran dapat pemodalan (maksud modal di sini adalah uang/dana) malahan tidak dioptimalkan.

 

Sebenarnya modal utama dari berwirausaha kalau ane rangkum dari pengalaman, pengetahuan, dan belajar dari orang-orang sekitar ane bukanlah uang/dana. Biar mudah diingat ane singkat jadi KLIK. Kemauan-Lakukan-Inovatif-Kreatif.

 

Kemauan yang kuat  

Mau tidaknya jadi seorang wirausahawan memang kembali pada diri kita sendiri. Sebelum menjadi wirausahawan harusnya bertanya dulu sama diri sendiri, “gelem opo ora awakku soro-soroan ndisek?” (Mau atau tidak aku bersusah-susahan dulu?). “nek gelem, yo wes lakonono. Nek gak gelem, mending nggolek kerjaan sing liane ae….” (kalau mau, lakukanlah. Kalau tidak mau, lebih baik cari pekerjaan yang lain saja). Kalau bahasa psikologisnya, pertanyaan seperti itu untuk mempertanyakan efikasi diri (self-efficacy) untuk berwirausaha. Itu salah satu tantangan yang harus dihadapi buat jadi seorang wirausahawan, keluar dari zona nyaman. Terlalu asik dengan kondisi nyaman membaut agak susah buat moving forward to bacame an entrepreneur!

 

Lakukanlah sekarang dan dari hal yang kamu mampu dan sukai

“Nek gelem, yo wes lakonono. Nek gak gelem, mending nggolek kerjaan sing liane ae….” (kalau mau, lakukanlah. Kalau tidak mau, lebih baik cari pekerjaan yang lain saja).

 

Kebanyakan dan juga jadi pengalaman ane, kalau mau wirausaha tetapi kebanyakan mikirnya nggak bakalan mulai. Biasanya para pemula yang punya intensi (niat) berwirausaha terjebak pada pemikiran “Menyiapkan rencana bisnis, analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat), butuh modal sekian, investasi sekian, produknya harus bagus dulu, nyari kantor/tempat usaha yang strategis dulu, dan blah blah blah….”. Sehingga pada akhirnya impian untuk menjadi wirausahawan terhenti hanya sampai niat.

 

Kita butuh perencanaan untuk meminimalkan kerugian, hanya tentunya yang lebih jadi prioritas untuk pemula adalah memulai usaha tersebut (take action) agar mulai berjalan. Perbaikan-perbaikan dapat dilakukan sembari melakukan usaha. Ibaratnya nih, ada orang mau belajar naik sepeda ontel. Kalau tidak langsung melakukan praktek apa jadinya akan bisa lihai mengendarainya? Justeru dengan langsung praktek, orang itu akan belajar memperbaiki kesalahannya, hingga akhirnya mahir.

 

Inovatif Perlu

Intinya kalau mau sukses dalam wirausaha harus punya inovasi/pembaharuan. Gak perlu jauh-jauh, dari yang sederhana saja dan dari yang kita mampu. Ane punya temen, hobinya itu men-doodle. Dia gambarin tuh apapun yang menurutnya unik buat digambarin. Dia sering posting-posting di media sosial, dan sering buat-buat kerajinan dari doodle art-nya itu. Media gambarnya di talenan, piring, dan yang nyeleneh-nyeleh lainnya. Lalu dijual. Karena konsisten, lambat laun ia mulai dikenal. Pesanan dari berbagai daerah mulai berdatangan, ia juga pernah dimintai jadi pemateri sebuah komunitas di Jakarta. Intinya usaha mulai dari yang dia bisa dan sukai, tanpa menunggu pikir panjang lagi.

 

Kreatif dalam Segala Kondisi

Seorang wirausahawan pasti sudah satu paket dengan yang namanya sifat kreatif, apa lagi waktu lagi kejepit. Maksudnya? Contohnya kakak ipar ane yang PNS beserta isterinya. Suatu waktu kakak ane itu lagi bangun rumah dan perlu biaya yang gede, dan pada waktu yang bersamaan juga ia melanjutkan studinya ke jenjang S2. Bayangin gimana seretnya keuangan mereka saat itu. Walaupun mereka tidak punya modal berupa uang buat menjalankan usahanya, tapi dengan modal kepercayaan dari kenalannya mereka berjualan barang-barang milik kenalannya itu ke teman-teman kantornya. Alhamdulillah ia sekeluarga dengan dua orang anak bisa bertahan dari jualan itu. Sekarang mulai normal lagi.  

 

Atau kakak ane yang satu lagi, yang jadi guru tetap di sekolah dasar negeri. Tanpa punya modal uang besar, ia punya link ke tempat jualan gadget khususnya laptop. Dia awalnya nggak terlalu paham sama kayak gituan, tetapi bermodal yakin dan terus sambil belajar menambah infromasi tentang dunia perlaptopan, ia bisa juga. Kakak ane memanfaatkan jaringan teman-teman dan rekan gurunya untuk jadi pasar konsumen jualannya, yang memang sepengetahuan ane di wilayah tersebut belum terlalu paham tentang kayak gituan. Kakak ane ini termasuk kreatif dalam memanfaatkan peluang. Sekarang konsumennya terus bertambah aja, berkat rekomendasi dari teman-temannya yang lain.

 

Kreatif itu: dalam kondisi apapun bisa memanfaatkan peluang yang ada, menjadikan kesempitan menjadi kelapangan.

 

Nah, intinya mudah-mudah gampang buat jadi seorang wirausahawan. Betul tidak?

 

Buat ane tidak masalah apapun kerjaannya yang penting halal dan barokah. Ane nulis ini bukan untuk membandingkan pekerjaan mana yang paling hebat dan paling unggul, tidak ada fanatisme terhadap suatu bidang pekerjaan. Entah jadi kuli, petani, PNS, tentara, dosen, tukang sapu, akademisi, animator atau jadi yang lainnya, yang penting lakukan dengan sungguh-sungguh dan berikan yang terbaik. Mau jadi pekerja kek atau mau jadi wirausahawan pun tidak masalah. Tapi kalau bicara masalah pandangan sosial, sok keukeuh aja masih ada aja yang menganggap pekerjaan A lebih hebat dari pekerjaan lain. Abaikan aja sambil ketawa dan tetap fokus sama tujuan kita.  

 

Hanya buat ane, jadi wirausahawan itu keren. Kenapa? Karena bisa jadi boss buat diri sendiri sehingga bebas berkreasi. Kata Allah SWT juga, 99 jalan rejeki itu datangnya dari perdagangan, dan berdagang itu salah satu bentuk wirausaha. Terus ada lagi, rata-rata orang-orang kaya di dunia ini memulai suksesnya dari wirausaha kecil hingga besar. Nah, kalau kita kaya kesempatan kita buat bantu orang lain kan lebih besar dan banyak. Gak tau buat yang lain. Itu sudah...



Saling doain ya, biar bisa cepat jadi wirausaha.:D

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">