PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Sekolah Wirausaha Pemuda Desa (Tugas Psikologi Humanistik)

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 08 December 2014
di Nyangkut ke Psikologi - 3 komentar

Sekolah Wirausaha Pemuda Desa:

Pemberdayaan Kewirausahaan Berbasis Appreciative Inquiry (AI)  

Sebagai Bentuk Aplikasi Self-System Actualization


 Hilman Luqmanul Hakim, Cholicul Hadi

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga Surabaya, Indonesia.

e-mail: ceploekim@yahoo.com

 


Abstrak

Tingginya permintaan terhadap pekerjaan berdampak kepada urbanisasi. Pelaku urbanisasi diantaranya adalah para pemuda, karena umumnya pada masa ini mereka sedang berada pada sosialisasi ekonomi. Pemerintah maupun pihak swasta telah menawaran bantuan pemodalan untuk kewirausahaan. Namun hal tersebut belum banyak diminati khususnya oleh para pemuda. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gagasan dalam mengembangkan kewirausahaan pemuda di pedesaan dengan pendekatan yang menekankan kepada psikologi humanistik.

 

Hasil studi literatur menyebutkan bahwa terdapat aspek-aspek psikologis yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya dan kesuksesan berwirausaha. Oleh karena itu dicetuskanlah sebuah Sekolah Wirausaha Pemuda Desa, sebagai pemberdayaan kewirausahaan berbasis appreciative inquiry (AI). Terdapat beberapa tahapan dalam implementasi gagasan. Tahap studi pendahuluan, kapitalisasi potensi desa, pembuatan desain kurikulum dan modul, pelaksanaan Sekolah Wirausaha Pemuda Desa yang meliputi tahapan intervensi Appreciative Inquiry (AI) dan praktik kewirausaha, monitoring dan kontrol, serta evaluasi program.

 

Harapannya program ini dapat dapat meningkatkan kewirusahaan pemuda di desa-desa seluruh Indonesia. Sehingga akan berdampak pada terciptanya kemandirian ekonomi dan optimalisasi sumber daya desa-desa di Indonesia. Pada kelanjutannya akan menurunkan angka urbanisasi. Adapun dalam menghadapi persangan global, munculnya para wirausahawan baru akan semakin mengokohkan perekonomian Indonesia di kancah dunia.

 

Kata Kunci: Pemuda, Appreciative Inquiry (AI), Kewirausahaan, Psikologi Humanistik


 

1. Pendahuluan

Gencarnya penggalakkan program kewirausahaan telah memberikan angin segar akan para pencari kerja di Indonesia. Harapannya penggalakkan program kewirausahaan ini dapat mengurangi tingkat pengangguran yang terus menjadi masalah di Indonesia. Pemerintah maupun pihak swasta telah mengupayakan kewirausahawan pada pemuda dengan bantuan modal mapun pelatihan. Akan tetapi sampai saat ini, pengangguran tetap menjadi masalah bagi pemerintah. Program wirausaha yang digalakkanpun belum banyak memberikan kontribusi terhadap munculnya wirausahawan-wirausahawan baru, khususnya di pedesaan. Tidak sedikit, pelaku utama dari pengangguran terebut adalah para pemuda yang berasal dari pedesaan.

 

Hal tersebut memunculkan fenomena ‘mengadu nasib di kota besar’. Anggapan seperti demikian menjadikan masyarakat desa berbondong-bondong untuk mencari kerja di kota. Sedangkan kota sendiri tengah mengalami ruwetnya permasalahan lain. Salah satu cara untuk dapat mengaktivasi kewirausahaan pemuda di wilayah tersebut adalah dengan pendidikan kewirausahaan (Pyysiäinen & Vesala, 2013).

 

Dalam memulai berwirausaha, faktor-faktor psikologis sangat mempengaruhi. Suatu riset oleh Huber, dkk., (2012) yang disponsori Amsterdam Center for Entrepreneurship mengemukakan bahwa faktor psikologis seperti self-efficacy, meed for achievement, motivasi, kreativitas, intensi berwirausaha, dan lainnya sangat menentukan keberhasilan wirausaha. Hal-hal seperti inilah yang belum banyak dikembangkan oleh pemerintah dalam mendorong kewirausahaan pemuda. Sebab itu, diperlukan aktivasi dan dorongan kewirausahaan agar para pemuda dapat berwirausaha, yaitu dengan adanya intervensi tertentu.

 

Psikologi humanistik memberikan peranan besar terhadap pengembangan organisasi maupun praktek manajemen. Misalnya saja teori Maslow banyak dirujuk dalam hal hirarki kebutuhan, motivasi, sinergi, kreativitas, aktualisasi diri, dan “enlightened management” sangat berpengaruh kepada dunia kerja (Montuori & Purser, 2001). Psikologi humanistik tersebut telah menginpirasi Cooperrider dan Srivastva (1987) dalam mencetuskan suatu metode intervensi pengembangan organisasi bernama “appreciative inquiry”. Pendekatan tersebut memiliki perhatian terhadap konstruksi sosial yang alamiah dari makna organisasi. Hal tersebut dapat dilihat sebagai suatu proses dialog yang muncul dari wacana “self-system actualization”.

 

Appreciative inquiry merupakan suatu alternatif baru dalam penyelesaian masalah. Selain itu, teknik intervensi ini juga bukan hanya sekadar metode atau teknik pengembangan organisasi tetapi lebih dari itu, metode ini lebih berhubungan dengan suatu cara dari penyelidikan (mode of inquiry). Orientasi dari metode ini untuk menimbulkan kemungkinan yang imajinatif dan segar untuk mengorganisirnya (Montuori & Purser, 2001).

 

Menurut Cooperrider and Srivastva (1978) Appreciative inquiry (AI) adalah suatu proses belajar kolektif untuk mengeksplorasi, menemukan, dan mengapresiasi segala sesuatu yang ada di kehidupan ini (Fry & Leudema, 2002). Secara umum, dasar awal dari konsep tersebut digambarkan sebagai berikut:

 

Fokus Strategi

4D Model

Gambar 2.1 Appreciative inquiry 4-D model

Sumber: The SAGE Handbook of Action Research Participate Inquiry and Practice


Melihat besarnya potensi tersebut, maka pendidikan kewirausahaan sangat penting untuk digalakkan. Pendidikan kewirausahaan merupakan bentuk intervensi yang diberikan sekaligus wahana dalam mengaplikasikan konsep psikologi humanistik. Maka dari itu, penulis mengusulkan gagasan Sekolah Wirausaha Pemuda Desa, sebagai pemberdayaan kewirausahaan berbasis appreciative inquiry (AI).

 

2. Metode

Metode yang digunakan pada paper ini berupa studi pustaka. Pustaka yang dirujuk berupa jurnal ilmiah, pegangan (handbook), dan data pendukung yang berasal dari instansi atau lembaga terpercaya.

 

3. Hasil

Berdasarkan konsep dasar appreciative inquiry (AI) 4-D model, maka dapat dapat dijabarkan sebgaai berikut dalam bentuk sebagai berikut:

a. Discovery, yaitu menemukan, menyoroti, dan menjelaskan hal-hal positif yang dimiliki oleh pedesaan, berupa potensi alam dan budaya yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan masyarakat desa. Para pemuda diajak secara aktif untuk menemukan hal-hal positif apa yang dimiliki oleh potensi desanya. Sehingga masyarakat sadar dan menghargai terhadap anugerah yang telah diberikan, yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa cinta mereka pada daerahnya.  

b. Dream, setelah potensi desa teridentifikasi, secara alamiah pikiran akan mencari dan mengarahkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Mereka diajak untuk membayangkan mimpi masa depan yang positif terhadap desanya, serta mencari hal apa saja yang dapat dilakukan untuk merealisasikannya. Mimpi yang konkret dan visibel untuk dapat mereka lakukan, sebagai contoh riil, lima sampai sepuluh tahun ke depan desa mereka diliput oleh stasiun televisi nasional sebagai desa wirausaha dengan produk khas lokalnya, yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan perekonomian di provinsinya.

c. Design, merancang masa depan. Untuk merealisasikan mimpi/cita-cita dalam mengoptimalkan potensi desanya, mereka harus mendesain rancangan langkah-langkah untuk merealisasikannya. Pada proses ini komitmen mereka berusaha dibangun, dengan cara dialog dan debat, keahlian dan menciptakan (crafting and creating), hingga komitmen mereka dapat  timbul untuk merealisasikan cita-cita mereka.

d. Destiny, merupakan tahapan untuk mengimplementasikan dan mendukung perubahan. Masyarakat diajak untuk melakukan optimalisasi potensi desanya secara langsung dengan didukung oleh pihak-pihak bersangkutan.

 

Cara Penggunaan Appreciative Inquiry (AI) di Masyarakat

 Berikut tiga dari delapan cara yang diadaptasi dari Whitney dan Trosten-Bloom (2003) (Fry & Leudema, 2002):

a. Progressive AI meeting: Suatu organisasi, kelompok kecil, atau tim yang dipersiapkan untuk mengikuti semacam kursus/pembelajaran AI 4-D Model yang dilaksanakan antara 10-12 kali pertemuan, yang mana setiap kali pertemuannya berdurasi 2-4 jam.

b. Positive change network progressive AI meeting: Anggota suatu organisasi dilatih proses AI dan disediakan sumber daya untuk menginisiasi proyek  dan membagikan materi, sejarah, dan praktek terbaik kepada masyarakat.


c. Core group inquiry: Sekelompok kecil orang memilih suatu topik, merancang pertanyaan, dan mengadakan wawancara appresiative inquiry kepada masyarakat. Topik yang dipilih tentunya mengenai potensi daerah di desa bersangkutan. Kelompok kecil yang dibentuk ini sebelumnya telah mengikuti pelatihan kursus/pembelajaran AI 4-D Model.

 

Penggunaan intervensi appreciative inquiry (AI) ini bertujuan untuk menambah kesadaran pemuda di pedesaan akan potensi desa yang mereka miliki. Proses ini dilakukan secara bertahap, dari sejumlah masyarakat ke sejumlah masyarakat lainnya. Begitu seterusnya secara berantai. Hingga kesadaran masyarakat dan kemauan untuk berwirausaha di desanya masing-masing tertularkan. Beberapa studi telah membuktikan, intervensi ini berhasil diterapkan dalam perubahan positif suatu kelompok masyarakat (Fry at all, 2002).

 

Adapun pengembangan aspek-aspek psikologis lainnya dapat diberikan dengan menggunakan metode pendidikan psikologis. Misalnya dengan memberikan metode pendidikan model project based learning, atau pendidikan edukasi kewirusahaan seperti BizWorld.

 

Mind Map

4D Model

 

Gambar 2.2: Alur Pemikiran Program Sekolah Wirausaha Pemuda Desa

 

 

4. Kesimpulan

Program “Sekolah Wirausaha Pemuda Desa” merupakan suatu pendidikan kewirausahaan yang bertujuan mengaktivasi dan mendorong kewirausahaan bagi pemuda di pedesaan. Pendekatan yang dilakukan berbasis psikologi dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry (AI). Mengingat aspek-aspek psikologi yang mendukung kesuksesan seorang wirausahawan sangat berperan besar. Selain itu, masih sangat jarang pendidikan kewirausahaan digalakkan, terlebih untuk pemuda di pedesaan. 

 

Teknik pengimplementasian program ini melalui beberapa tahapan, yaitu tahap studi pendahuluan, proses kapitalisasi potensi desa, pembuatan desain kurikulum dan modul, pelaksanaan program, kontrol dan monitoring, serta evaluasi program. Program ini sangat mungkin dilakukan di pedesaan di Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan alam yang belum terlalu dimanfaatkan. Sehingga akan mengaktivasi dan mendorong kewirausahaan pemuda di pedesaan dalam berwirausaha dan bisa mengurangi arus urbanisasi dan desa-desa di Indonesia lebih terberdayakan. Pada kelanjutannya, akan semakin meningkat jumlah kewirausahaan di Indonesia, yang berdampak kepada kemakmuran yang merata di negeri ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fry, R.E., & Leudema, J.D. (2002). Appreciative Inquiry and Organizational

Transformastion:Report from The Field. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.

 

Montuori, A., & Purser, R. (2001). Humanistic psychology in the workplace. Dalam

K. J. Schneider, J.F.T. Bugental, & J.F. Pierson (ed), The handbook of humanistic psychology: Leading edges in theory, research, and practice (hal. 635-644). California: Sage Publications, Inc.

 

Pyysiäinen, Jarkko., and Vesala, Kari Miko. (2013). Activating Farmers: Uses of

Entrepreneurship Discourse in The Rhetoric of Policy Implementers. Discourse & Communication, 7 (I): 55-73.

3 Komentar

Fiforlif diet

pada : 07 April 2015


"Tulisannya Bagus.. Nice Article.. Www.herbaldietfiforlif.com
"


fiforlif

pada : 07 April 2015


"Tulisannya Bagus.. Nice Article.. Www.herbaldietfiforlif.com
"


fiforlif

pada : 07 April 2015


"Tulisannya Bagus.. Nice Article.. Www.herbaldietfiforlif.com
"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">