PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Kuliah (lagi) Atau...

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 08 December 2014
di SerbaSerbi Kampus - 0 komentar

"Habis lulus kuliah es-satu disuruh oleh orangtua buat ngelanjutin ke es-dua, apa pendapatmu?"

 

 

Sebuah fenomena yang nggak asing lagi buat saya. Beberapa dari obrolan teman yang sudah lulus memiliki jawaban yang bermacam-macam. Ada yang nggeh mawon menuruti apa kata orangtua, ada juga yang ares-aresan dengan berbagai macam alasan. Alasannya ada yang masih ingin istirahat dari menjenuhkannya kegiatan kampus, ada yang mau kerja dulu biar dapat penghasilan, ada yang terang-terangan nolak karena punya tujuan lain, dan lain-sebagainya.



Seorang teman yang berasal dari Kalimantan pernah bercerita, kalau dia diminta sama orangtuanya untuk melanjutkan es-duanya. Alasannya biar setelah lulus es-dua dia diproyeksi untuk jadi dosen di sana. Reaksi pertamanya adalah penolakkan dari dirinya, dengan alasan pengen istirahat dulu dari kegiatan-kegiatan tugas yang menjenuhkan. Hingga akhirnya sempat ada sedikit perdebatan diantara mereka. Akhirnya temanku ini luluh juga untuk melanjutkan es-dua, dengan syarat ia ingin melanjutkannya di universitas yang berbeda dengan es-satu nya. Atau minimal dia bisa kuliah dil luar negeri seperti teman-temannya yang lain. Hanya saja kemudian kembali terjadi ketidaksepahaman, orangtuanya menghendaki ia tetap menempuh es-dua di tempat yang sama dimana ia kuliah es-satu dulu.



Atau pada kasus yang lain, ketika kamu sudah memiliki rencana lain setelah lulus es-satu, misalnya ingin berwirausaha tetapi orangtua menghendaki untuk lanjut es-dua agar bisa bekerja pada suatu perusahaan bonafit nantinya. Menjadi sebuah dilema bukan?

Di satu sisi kita ingin mengembangkan bakat ataupun potensi kita di suatu bidang, di sisi lain orangtua memiliki pandangan lain yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kalau mbangkang, jadikah nanti anak durhaka?



Kedua kasus dilematis di atas jika mau dilihat benang merahnya hanya pada bagaimana memanfaatkan kesempatan (opportunity). Aku memberikan saran kepada teman yang pertama untuk melanjutkan terlebih dahulu es-duanya, walaupun di tempat yang sama. Perkara dia ingin melanjutkan studinya di luar negeri, dia bisa memanfaatkan proses saat es-duanya tersebut untuk mencari-cari beasiswa sekaligus lebih mengembangkan kemampuan yang dimilikinya untuk bekal kuliah di luar negeri kelak (misal kursus Bahasa Inggris).



Perkara ia mau jadi dosen atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah memanfaatkan kesempatan/peluang tersebut, istilahnya sambil menyelam minum air. Ia dapat memenuhi keinginan orangtuanya sekaligus ia berproses untuk mencapai impiannya untuk kuliah di luar negeri. Jelek-jeleknya kalaupun ia tidak berhasil ke luar negeri, plan terakhir ialah menuruti saran dari orangtua untuk menjadi dosen. Jika memang ia tidak ingin menjadi dosen di tempatnya, ini menjadi sebuah tantangan untuknya untuk mengeluarkan effort yang lebih agar impiannya tercapai. Waktu yang ditempuhnya saat es-dua tersebut menjadi kesempatan baginya, apakah ia bisa memanfaatkan kepada orangtuanya bahwa ia bisa mencapai impiannya atau tidak. Orangtua biasanya akan percaya kepada anaknya, ketika dibuktikan dengan perbuatan/hasil yang kita berikan oleh anaknya.



Tidak jauh beda pula untuk kasus yang kedua. Kesempatan yang diberikan oleh orangtua untuk melanjutkan es-dua ada baiknya diambil saja. Jadikan itu sebagai sebuah pemanfaatan sebuah kesempatan (opprotunity). Bukankah salah satu definisi dari seorang wirausahawan adalah pandai memanfaatkan peluang (opportunity) yang ada di hadapannya?. Apapun bentuknya peluang itu, seorang wirausahawan akan mengambilnya dan menjadikan itu jadi bernilai baginya.



Hanya saja, saat menempuh es-dua akan menjadi tantangan baginya, sekaligus menjadi ajang pembuktian kemampuannya pada orangtua kalau kamu mampu dengan pilihan yang kamu ambil. Buktikan jika tanpa menjadi pegawai di perusahaan bonafit pun kamu bisa sukses. Berikan mereka sebuah kebanggaan dengan kesempatan di waktu ini, agar mereka teryakinkan. Misalnya, kamu mengambil es-dua tersebut dengan biaya hasil dari wirausahamu sendiri. Atau kalaupun orantua menghendaki atas biaya mereka, ambil saja biayanya dan simpan untuk kemudian diberikan kelak dalam bentuk hadiah bagi mereka. Misalnya menghajikan mereka? Sementara kamu tetap membiayai kuliahmu dengan hasil keringatmu sendiri. Indah bukan?



Terkait tuntutan mereka agar kamu bekerja di perusahaan bonafit, ia bisa dibicarakan seiring dengan berjalannya waktu. Orangtua mana sih yang nggak akan meleleh saat dihajikan oleh anaknya, yang sudah nurut sama orangtua, lulusan es-dua, mandiri, punya usaha sendiri pula? Kalau bisa dapaet  nilai A plus plus, kenapa masih cuma mau dapat nilai A.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :