PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Pendidikan dan Kita

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 29 September 2014
di Buah Pikiran - 0 komentar

Belakangan ini sedang marak diberitakan tentang benar salah antara hitungan 6x4 atau 4x6. Bermula dari media sosial akhirnya jadi membooming menjadi berita hangat-hangatnya. Sekilas berdasarkan kesimpulan dangkal, di era perinternetan ini, adanya media jejaring sosial membuat masyarakat di Indonesia cukup repsonsif terhadap kasus-kasus yang muncul. Tidak hanya kasus pendidikan saja, kasus lain pun akan lebih cepat merembet jika memang dimunculkan di jejaring sosial. Masyarakat pun cukup reaktif menimbulkan tanggapan-tanggapannya.

 

Menguntungkan atau merugikan? Tentunya segalanya tidak akan terlepas dari kedua hal tersebut. Responsivitas dan reaktivitas akan selalu dikaitkan dengan untung rugi. Baiknya dalam pandangan ini akan dispesifikan terlebih dahulu ke dalam ranah pendidikan. Untungnya dengan kemunculan kasus perkalian itu minimal masyarakat ‘ngeh’ atau minimal sedikit peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Ruginya, bisa dipikirkan sendiri.

 

Siswa sebagai objek dari pendidikan seringkali kurang mendapat perhatian. Padahal justeru siswalah yang harusnya mendapat perhatian. Artinya ‘insiden’ perkalian tersebut bisa jadi merupakan salah satu dari sekian banyak kasus yang menjadi gunung es dalam dunia pendidikan. Bukankah siswa telah mendapatkan perhatian? Jawabannya adalah bisa jadi. Sekolah mungkin memberikan perhatian berupa pelatihan-pelatihan cara mengajar yang baik untuk gurunya. Tujuannya agar guru bisa mengajar dengan baik pada muridnya. Namun apakah sudah banyak usaha sekolah dalam memahami siswa dengan beragam keunikannya?

 

Jika melihat siswa sebagai individu, maka setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Misalnya saja dari segi gaya belajar (leraning style) siswa. Ada beberapa teori yang mengemukakan terkait gaya belajar. Dan dari semua teori itu tertuju pada kesimpulan terdapat banyak variasi belajar yang dapat dilakukan oleh siswa. Gambarannya, apakah masih ada kecenderungan dari guru yang melarang siswanya untuk belajar dengan cara yang berbeda?

 

Ini juga mestinya menjadi pelajaran bagi orangtua. Karena orangtua juga turut andil dalam proses pendidikan anaknya. Pertanyaan yang cukup replektif adalah apakah Anda orangtua masih memaksakan kepada anaknya untuk mematuhi jadwal jam pelajaran rutin, padahal ia sudah cukup senang dengan cara belajar yang tidak rutin tetapi tetap menyenangkan dan bisa dipahami oleh anak? kembali lagi, di sini orangtua pun harus cukup bisa belajar dan memahami tentang sang anak. Jadi pendidikan tidak hanya dipikul oleh guru.

 

Kembali ke pokok pembahasan awal, bahwa responsivitas pada masyasarakat hendaknya bisa dijadikan sebagai alat untuk mengenalkan kepada masyarakat. Adanya momentum seperti itu sebaiknya turut dimanfaatkan untuk bisa memberikan pengertian kepada masyarakat. Pengertian dalam hal ini berbentuk edukasi dan pengenalan kepada orangtua khususnya dalam hal konsep-konsep pendidikan anak-anak. Termasuk dapat mengenalkan konsep psikologis yang dapat membantu mengoptimalkan pendidikan anak. karena mungkin saja tidak dapat dipungkiri, bahwa adanya kasus-kasus tertentu cukup menyita perhatian masyarakat. Sehingga masyarakat akan mencari tahu terkait dengan kasus tersebut. Peluang seperti inilah yang patut untuk dimanfaatkan. Sehingga sekalian mendapat contoh kasus, masyarakatpun dapat belajar banyak dari kasus-kasus terebut.        

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :