PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Ini Dia Alasan Gagal dalam Psikotes

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 18 September 2014
di Nyangkut ke Psikologi - 2 komentar



Tiap kali ikut psikotes buat masuk kerja selalu gagal. Nah yang diharapkan dari psikotes itu gimana sih?


Sebelumnya telah disinggung beberapa tips yang barangkali bisa membantu agan dalam menghadapi psikotes (lihat Cara Jitu Menghadapi Psikotes). Pada tulisan kali ini ane mau sedikit memberi pencerahan tentang ‘apa sih yang diharapkan dari psikotes?’. Tetapi bukan berarti setelah membaca ini tiba-tiba agan berhasil dalam psikotesnya. Berhasil atau tidaknya itu kembali ke kapasitas/kemampuan yang agan miliki, jenis dunia kerja yang akan digeluti, juga permintaan dari perusahaan terkait ciri-ciri kemampuan/kapasitas individu apa saja yang dibutuhkan. Juga jangan lupakan campur tangan Tuhan.


Di dunia kerja, yang namanya psikotes bukan merupakan hal asing lagi. Itu merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh seseorang. Seleksi akan selalu identik dengan prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Tak berbeda dengan konsep jual beli, jika mau diilustrasikan. Perusahaan sebagai pembeli, pencari kerja sebagai penjual, dan yang diperjual belikan adalah jasa/kemampuan tertentu yang dibutuhkan oleh perusahaan.


Jadi gambaran mudahnya adalah agan menjual jasa kepada perusahaan berupa kemampuan-kemampuan yang agan miliki. Selanjutnya adalah masalah kecocokan. Perusahaan mencari individu-individu yang memiliki dan memenuhi kriteria tertentu untuk mendukung proses usaha mereka. Karena yang diperjualbelikan adalah barang yang tidak konkret (berupa kemampuan dan potensi diri seseorang) maka perlu alat/instrumen untuk menguaknya. Nah, psikotes itu adalah intrumen tersebut. Psikotes merupakan alat ukur psikologis yang digunakan untuk membaca dan memetakan kemampuan dan potensi seseorang. Hasil dari psikotes tersebut menunjukkan kemampuan apa saja yang dimiliki, potensi apa yang unggul, dan potensi apa saja yang kurang unggul dari seorang individu.


Sebelum tes biasanya perusahaan atau pihak yang memiliki kepentingan dengan psikotes telah memiliki semacam kriteria-kriteria tertentu. Mereka membutuhkan individu yang akan direkrut menjadi karyawan dengan spesifikasi kemampuan dan potensi A, B, C, dan D. Jika sudah ditentukan seperti itu, psikolog tinggal menjaring orang-orang yang dinilai dari hasil psikotesnya memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Logikanya mungkin sama dengan seleksi lomba Olimpiade Sains Nasional yang harus memenuhi beberapa standar tertentu untuk bisa lolos ke jenjang selanjutnya.


Mereka yang terpilih adalah individu yang setidaknya diharapkan memiliki kemampuan dan potensi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Selanjutnya tinggal mengikuti proses seleksi berikutnya untuk mendapatkan yang paling sesuai dengan kebutuhan, biasanya dengan wawancara, fokus group discussion (FGD), dan sebagainya. Setelah terpilih, mereka akan dihadapkan kepada dunia kerja yang memang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki. Keuntungannya apa? Bagi perusahaan, tidak perlu mengeluarkan effort yang lebih untuk membina dan mengembangkan keterampilan pekerjaan yang akan mereka kerjakan. Karena pada dasarnya mereka telah memiliki modal dasar kemampuan dan potensi yang cukup baik untuk kemudian dikembangkan, istilahnya tinggal sedikit dipoles saja langsung bisa.


Keuntungan bagi individu itu sendiri, mereka tidak akan terlalu terbebani dengan pekerjaan yang diberikan. Karena setidaknya pekerjaan tersebut telah cukup sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki. Lantas apakah mereka yang tidak terpilih merupakan individu yang kurang baik? Tidak juga, yang lebih tepat adalah karena faktor ketidakcocokan antara permintaan dari perusahaan dan penawaran yang dimiliki oleh individu tersebut. So, buat agan yang masih sering gagal dalam seleksi kerja, khususnya psikotes, tidak perlu berputus asa. Teruslah mencoba. Mencari pekerjaan bisa diibaratnya mencari jodoh, apakah cocok atau tidak. Agan tinggal berusaha, berdoa, dan menantikan waktu yang tepat akan kedatangan ‘jodoh’ tersebut. Ketika agan terus mencoba, lagi, dan lagi, walaupun itu gagal, itu telah menjadi point plus tersendiri untuk agan. Karena apa? Itu secara tidak langsung akan melatih ketahanan, kesabaran, dan pengalaman agan. Nikmati saja setiap prosesnya dan jangan lupa untuk tetap berdoa. Semoga sukses!

*Tulisan ini merupakan gambaran idealis dan teoritis juga cukup realistis dan logis terkait pelaksanaan psikotes. Selebihnya tergantung dilapangan.

2 Komentar

Amas Dasmana ST.

pada : 10 July 2015


"Bagus juga tuh pencerahanya, semoga bermanfaat buat pencari kerja, kalau saya sdh bekerja sebagai PNS, bagaimana cari tambahan penghasilan, saya bakat sekali bisnis kuliner, tapi modal tdk ada. nuhun"


Cep Lukim

pada : 30 July 2015


"Ini tulisan terbaru saya. mudah-mudahan bisa ngasih pencerahan. terima kasih sudah mampir.

http://ceplukim-fpsi10.web.unair.ac.id/artikel_detail-141671-Nyangkut%20ke%20Psikologi-Jurus%20Jitu%20Menjadi%20Entrepreneur.html "


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">