PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Demam Pasca Kampus: Realitas Tak Terbatas!

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 22 April 2014
di SerbaSerbi Kampus - 1 komentar

Setelah menyandang julukan mahasiswa, pasca lulus, julukan apakah yang akan melekat pada diri kita? Tentunya kita sendiri yang menentukan.

 

Mahasiswa tingkat akhir (mahir) adalah masa-masa dimana kegalauan-kegalauan mulai muncul. Penulis sempat menyinggung beberapa demam yang dialami para mahir dalam tulisan yang berjudul Demam Mahir (Mahasiswa Tingkat Akhir): Skripsi Tak Kunjung Diuji, Jodohpun Melayang Belum Pasti. Memang kurang lebih seperti itulah adanya.

 

Kadangkala, pada tahap mahir inilah kita difokuskan terhadap tugas-tugas akhir yang ingin dirampungkan. Skripsi seolah menjadi kunci pembuka kelulusan dari jenjang perguruan tinggi. Hingga akhirnya dikukuhkan menjadi sarjana dengan tambahan gelar yang akan menghiasi di belakang nama kita. Tidak jarang para mahir sangat terfokus dengan skripsi saking ingin cepatnya lulus, kadang melupakan hal yang sebenarnya sangat penting untuk dipersiapkan. Yaitu dunia pasca kampus.

 

Persiapan dunia pasca kampus juga mestinya menjadi fokus utama yang perlu disiapkan jauh-jauh hari. Bahkan mungkin dipersiapkan sejak pertama kali masuk kuliah. Karena secara tidak sadar, perkuliahan merupakan sarana untuk menempa diri, hingga akhirnya kita bisa mengenali diri kita sendiri. Dari masa-masa kampus inilah, kita harusnya sudah mulai mengenal potensi kita, apa tujuan kita, dan seterusnya. Sehingga itu akan mengarahkan kita ‘akan kemana dan menjadi apa kita selanjutnya?’

 

Sewaktu prosesi wisuda tentulah menjadi momen yang membahagiakan. Karena itulah momen dimana secara simbolis kita telah dinyatakan lulus setelah bersusah payah menempuh masa-masa kuliah selama empat tahun atau lebih. Tetapi perlu diingat, bahwa itu hanya euphoria sesaat, jangan sampai terlena. Tidak jarang beberapa minggu setelah wisuda, bagi mereka yang belum punya rencana sebelumnya akan kebingungan. Mereka dihadapkan pada pertanyaan, ‘mau ngapain habis ini?’

 

Ya, karena tuntutan pasca kampus itu lebih tinggi, bahkan lebih ganas. Tidak pelak, semula pada saat kuliah kita masih memiliki julukan mahasiswa, tetapi pada pasca kampus dan belum memiliki pekerjaan, maka julukannya adalah pengangguran. Karena tanggung jawab kita adalah lebih berat ke sekeliling kita. Tanggung jawab kepada orang tua yang penuh harapan setelah bersusah payah membiayai dari SD hingga lulus perguruan tinggi. Belum lagi kepada tetangga, yang menaruh ekspektasi melambung bahwa sebagai seorang yang berpendidikan tinggi juga akan mendapatkan jabatan pekerjaan yang tinggi pula. Dari sinilah, penulis ingin membagi pemikiran. Mumpung sama-sama belum telambat.

 

Pentingnya rencana pasca kampus, sedikit banyak akan membantu kita mengarahkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus, dan apa saja yang harus dipersiapkan. Sehingga kita akan lebih jelas dalam melangkah. Sebagian besar mungkin berpikir bahwa setelah lulus akan mencari kerja, dan bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gajih yang tetap. Itu sah-sah saja. Tetapi yang akan kita hadapi di dunia pasca kampus adalah sebenar-benarnya realita. Saat ini, tidak sedikit lulusan kampus khususnya srata satu (S1) yang menganggur. Ada banyak faktor, beberapa di antaranya mungkin permintaan pekerja tidak sebanting dengan jumlah pelamar kerja, atau banyak pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Lantas, jika hal itu sudah terjadi, mau apa lagi?

 

Tidak perlu panik, meskipun dunia pasca kampus adalah realita tak terbatas, tetapi perlu diingat, bahwa dunia ini tidak selebar daun kelor. Masih banyak kesempatan-kesempatan lain yang bisa dimanfaatkan. Yang terpenting adalah mari buka mata, buka hati, buka pikiran, dan buka semangat baru.

 

  1. Kenali diri dan potensi

Mengenali diri dan potensi diri merupakan langkah yang cukup penuh tantangan. Pasalnya, tidak jarang kita bingung dengan diri kita sendiri. Sehingga muncul anggapan ‘bagaimana mau mengenali diri, wong awaku ae masih bingung siapa saya?’. Pertama-tama kesampingkanlah pernyataan itu, tanamkan dalam pikiran kita bahwa kita akan tahu seperti apakah diri kita.

 

Langkah sederhana untuk mengenali diri dan potensinya adalah dengan mengidentifikasi hal-hal postif apa yang kamu miliki. Penulis ingin berbagi tentang suatu teknik di dalam psikologi yang bisa membantu untuk mengenali diri, namanya adalah appreciative inquiry (AI).

 

Menurut James D. Leudema dan Ronald E. Fry Appreciative inquiry (AI) adalah suatu proses belajar kolektif untuk mengeksplorasi, menemukan, dan mengapresiasi segala sesuatu yang ada di kehidupan ini (Cooperrider and Srivastva, 1978; Busche, 1995 dalam Reason dan Hilary, 2008).

Konsep ini jika diterapkan dalam membentuk kesadaran diri, memiliki bentuk sebagai berikut:

  1. Discovery, yaitu menemukan, menyoroti, dan menjelaskan hal-hal positif yang dimiliki oleh diri sendiri
  2. Dream, setelah potensi diri teridentifikasi, secara alamiah pikiran akan mencari dan mengarahkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Bayangkan mimpi masa depan yang positif terhadap diri sendiri, serta mencari hal apa saja yang dapat dilakukan untuk merealisasikannya. Mimpi yang konkret dan visibel dapat kita lakukan.
  3. Design, merancang masa depan melalui dialog. Untuk merealisasikan mimpi/cita-cita dalam mengoptimalkan potensinya, kita harus mendesain rancangan langkah-langkah untuk merealisasikannya (meliputi nilai, norma, struktur, strategi, sistem, pola hubungan, dan cara melakukan sesuatu). Pada proses ini komitmen berusaha dibangun, dengan cara dialog dan debat, keahlian dan menciptakan (crafting and creating).
  4. Destiny, merupakan tahapan untuk mengimplementasikan dan mendukung perubahan.  

         2. Kembangkan dan optimalkan potensi

Setelah potensimu teridentifikasi, dan langkah-langkah mimpimu telah dituliskan. Maka lakukan dan mulai kembangkan apa yang menjadi potensimu. Untuk medukung pengembangan potensi, masa mahasiswa merupakan suatu masa yang penuh keuntungan. Pasalnya dunia kampus memiliki lahan untuk menunjang ke arah sana. Misalnya passionmu adalah dalam bidang menggambar, kamu bisa bergabung dalam komunitas-komunitas gambar. Teruslah asah kemampuan itu, karena itu akan menjadi modal berharga saat kita menghadapi dunia pasca kampus.

        3. Buat rencana pasca kampus

Rencana-rencana itu akan dikaitkan dengan proses appreciaive inquiry. Buatlah beberapa planing yang bisa dilakukan segera setalah kamu diwisuda. Planing-planing ini berfungsi untuk mengantisipasi, jika suatu planning tidak tercapai, maka ada planning pengganti lainnya yang bisa dilakukan.

 

Tentunya dalam membuat rencana-rencana itu, kamu bisa mendiskusikannya dengan orang-orang terdekat atau orang berpengalaman yang telah kamu percayai. Termasuk keluarga misalnya. Tujuannya adalah agar kamu mendapatkan gambaran dari orang berpengalaman juga masukkan yang dapat dijadikan planning. Keluarga perlu tahu, agar mereka dapat paham apa yang diinginkan oleh kita, selain itu agar mereka memberikan dukungan bagi kita. Sehingga kita bisa mengantisipasi, apabila kita seumpama gagal dalam satu rencana, ada keluarga yang tetap mendukung di kala kita jatuh.

        4. Take action

Jika memang planning sudah siap, dan kamu sudah tidak sabar ingin merealisasikan, maka segera lakukan rencanamu itu. Karena itu akan semakin mempermudah kamu saat nanti berada pada dunia pasca kampus. Apabila belum bisa merealisasikan, persiapan planning yang matang sudahlah lebih baik daripada tanpa ada persiapan sama sekali.

 

Sekali lagi, dunia ini tidak selebar daun kelor. Masih banyak hal-hal yang belum tereksplorasi dari dunia pasca kampus. Jika selepas wisuda kamu ingin segera bekerja, Tidak perlu terpaku pada planning menjadi karyawan/PNS. Masih banyak lahan lain yang bisa digarap. Bisa menjadi entreprener misalnya. Atau yang ingin terus melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi, saat ini banyak lembaga-lembaga yang menyediakan beasiswa dalam maupun luar negeri. Asalkan kita yakin kepada kemampuan diri kita dan mau berusaha serta tak lepas untuk tetap berdoa. Niscaya apa yang kita cita-citakan tercapai, semoga.

 

Dunia pasca kampus, realitas tak terbatas? Siapa takut!         

1 Komentar

Desi Soleha Santri

pada : 28 May 2016


"keren :), syukraan jazakallaahu khair. menjawab pertanyaan yg saya galaukan beberapa minggu terakhir selaku mahir. :D"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :