PSIKOBLOGI

ngobrol ngalor ngidul dengan psikologi

Demam Mahir

diposting oleh ceplukim-fpsi10 pada 22 April 2014
di SerbaSerbi Kampus - 0 komentar

Demam Mahir (Mahasiswa Tingkat Akhir): Skripsi Tak Kunjung Diuji, Jodohpun Melayang Belum Pasti.

 

Beberapa waktu penulis pernah membuat tulisan berjudul Demam Akut MABA: ‘idealisme vs realitas’. Tujuan dari tulisan itu tidak lain hanya membagikan pengalaman saat-saat mahasiswa baru yang penulis alami. Pada kesempatan kali ini, penulis pun mencoba menuliskan sekuel demam-demam lain yang dihadapi mahasiswa. Khususnya yang telah dialami oleh penulis.

 

Ternyata demam itu kembali muncul pada mahasiswa tingkat akhir (Mahir). Kali ini, saat tulisan ini dibuat penulis mulai terindikasi mengalami demam tersebut. Mungkin pembaca sekalian sendiri tengah mengalami demam-demam tersebut. Di balik itu semua, penulis hanya ingin mengemukakan beberapa pandangannya terkait demam yang mewabah pada mahasiswa tingkat akhir.

 

Demam skripsi:

Momok yang terjadi pada mahasiswa tingkat akhir mungkin adalah tugas akhir atau ada yang menyebutnya skripsi. Tidak bisa dipungkiri, bahwa tidak sedikit mahasiswa yang terhambat kelulusan karena skripsinya belum juga rampung. Bahkan tidak jarang, mata kuliah skripsi menghabiskan beberapa semester. Tentunya ada banyak faktor yang memengaruhi itu semua. Apa saja faktor-faktornya, mungkin pembaca bisa mengemukakan alasannya?

 

Jika penulis perhatikan, terutama perhatian yang penulis tujukan untuk mereka yang ‘terhambat lulus’ karena skripsi. Ada banyak tipe mahasiswa yang mempercepat ataupun memperlambat skripsi. Bahkan ada yang sampai ‘bangkotan’ menunggu-nunggu lulus hanya karena terhambat skripsi. Begitu jadi momokkah skripsi, sehingga secara tidak sadar, itu menjadi kambing hitam turun temurun.

 

Demam perbaikan nilai:

Tidak kalah dengan skripsi, nilai yang jeblok atau belum memenuhi target juga menjadi sesuatu yang membuat demam mahasiswa. Pasalnya, mau tidak mau indeks prestasi kumulatif (IPK) turut dipertimbangkan dalam dunia kerja. Bagi yang IPK di atas tiga mugkin agak tenang, tetapi yang masih di bawah dua menjadi was-was. Tidak jarang, mereka (mahasiswa) yang sudah sidang skripsi namun IPKnya belum mencapai tiga, mau rela-rela nambah satu semester buat menaikkan ipk.

 

Demam jomblo:

Ini juga perlu diperhitungkan, terlebih bagi mereka yang pas wisuda sudah ingin memiliki gandengan. Bagi sebagian mahasiswa, khususnya cewek kekhawatiran belum adanya pasangan atau pacar atau masih menjomblo menjadi kekhawatiran sendiri. Tetapi tidak sedikit pula yang tidak terlalu mempermasalahkan ini. Alasannya macam-macam, belum ketemu jodohlah, masih mau melanjutkan kuliahlah, atau apes-apesnya memang bernasib jomblo tulen.

 

Demam post power syndrome:

Penggunaan kata post power syndrome digunakan penulis, berhubung belum mendapatkan istilah yang tepat buat menggambarkannya. Masa-masa angkatan tua, bagi mereka yang sempat aktif diorganisasi, akan mengalami hal ini. Pasalnya, pada masa-masa ini puncak jabatan-jabatan di organisasi kampus telah berganti. Tinggal masa-masanya angkatan adik kelas kita yang sedang berada dalam pucuk-pucuk kepemimpinan. Gak ada kekuasaan untuk ‘sedikit jahil’ sama adik-adik kelas waktu ospek, atau yang lainnya.

 

Begitu juga berlaku di dalam dunia perkuliahan. Bagi mereka yang ngulang-ngulang mata kuliah, atau ada mata kuliah yang belum diambil, otomatis mayoritas kelasnya adalah adik-adik kelas. So, kadang-kadang rasa gengsi itu pasti muncul. Tanpa sadar kita jadi sejajar dengan adik-adik kelas.

 

Demam Wisuda:

Terlebih lagi saat menghadiri wisuda kakak kelas, atau teman seangkatan tapi lulusnya cepat. Ada rasa ser-seran yang muncul. Gimana tidak, keramaian saat wisuda selalu mengingatkan akan keramaian waktu kita diterima jadi mahasiswa baru. Dulu kita sama-sama pelantikan maba dengan teman seangkatan yang lulus cepat, tapi kok dia cepat lulusnya duluan... T.T #mewek. Terlebih kalau inget pertanyaan orang tua “kapan lulus?” serasa ada petir di siang bolong.

 

Terlepas dari itu semua, itulah yang dinamakan perasaan manusia. Sah-sah aja itu muncul, tapi hanya untuk sekadar motivasi untuk lebih maju ke depannya. Buat para Mahir, yuk kita sama-sama berdoa dan berusaha biar demam-demam itu segera dilalui dan diakhiri. Aamiin.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :